Kamis, 26 Februari 2009

ILMU KEPERAWATAN JIWA

ILMU KEPERAWATAN JIWA A.SEJARAH PSICHIATRI > 1773 : Custodial Care (tidak oleh tenaga kesehatan) > 1882 : Primary Consistend of Custodial Care > 1920-1945 : Care Fokus pada disease (model Curative Care) > 1950-1960 : 1.Pelayanan mulai berfokus pada klien 2.Psychotropic - menggantikan - Restrains - and Seclusion 3.Deinstitutionalization dimulai 4.Mulai penekanan pada therapethic relationship 5.Mayor fokus pada primary preventive > 1970-1980 : Fokus pada community based care / service Riset & Tecnologi > 1990-2000 : Focus pada preventif, community based service, primary preventive using various approaches, such as mental health center, particai, hospital service, day care center, home health and hospice care B.SEJARAH PERKEMBANGAN DAN UPAYA KESEHATAN JIWA DI INDONESIA 1.Dulu Kala G. jiwa dianggap kemasukan Terapi : mengeluarkan roh jahat 2.Zaman Kolonial Sebelum ada RSJ, pasien ditampung di RSU - yang ditampung, hanya yg mengalami gangguan Jiwa berat 3.1 Juli : 1882 : RSJ pertama di Indonesia1902 : RSJ Lawang
- 1923 : RSJ Magelang
- 1927 : RSJ Sabang diRS ini jauh dari perkotaan
Perawat pasien bersifat isolasi & penjagaan (custodial care)
- Stigma
- Keluarga menjauhkan diri dari pasien
4.Dewasa Ini hanya satu jenis RSJ yaitu RSJ punya pemerintah
5.Sejak tahun 1910 - mulai dicoba hindari costodial care ( penjagaan ketat) & restraints (pengikatan )
6.Mulai tahun 1930 - dimulai terapi kerja seperti menggarap lahan pertanian
7.Selama Perang Dunia II & pendudukan jepang - upaya kesehatan jiwa tak berkembang
8.Proklamasi - perkembangan baru
- Oktober 1947 pemerintah membentuk Jawatan Urusan Penyakit Jiwa ( belum bekerja dengan baik)
- Tahun 1950 pemerintah memperingatkan Jawatan Urusan Penyakit Jiwa - meningkatkan penyelenggaraan pelayanan
9.Tahun 1966
- PUPJ Direktorat Kesehatan Jiwa
- UU Kesehatan Jiwa No.3 thn 1966 ditetapkan oleh pemerintah
- Adanya Badan Koordinasi Rehabilitasi Penderita Penyakit Jiwa ( BKR-PPJ) Dgn instansi diluar bidang kesehatan
10.Tahun 1973 - PPDGJ I yg diterbitkan tahun 1975 ada integrasi dgn puskesmas
11.Sejak tahun 1970 an : pihak swastapun mulai memikirkan masalah kes. Jiwa
12.Ilmu kedokteran Jiwa berkembang
- Adanya sub spesialisasi seperti kedokteran jiwa masyarakat, Psikiatri Klinik, kedokteran Jiwa Usila dan Kedokteran Jiwa Kehakiman
- Setiap sub Direktorat dipimpin oleh 4 kepala seksi
Program Kes. Jiwa Nasional dibagi dalma 3 sub Program yang diputuskan pd masyarakat dengan prioritas pd Heath Promotion
Sub Prgoram Perbaikan Pelayanan :
- Fokus Psychiatic – medical – Care
- Penekanan pada curative service ( treatment) dan rehabilitasi
Sub Program untuk pengembangan sistem
- Fokus pada peningkatan IPTEK, Continuing education, research administrasi dan manajemen, mental health information
Sub Program untuk establishment community mental health :
- Diseminasi Ilmu
- Fasilitasi RSJ swasta - perijinan
- Stimulasi konstruksi RSJ swasta
- Kerja sama dgn luarg negeri : ASEAN, ASOD, COD, WHO dan AUSAID etc
C.KONSEPTUAL MODEL DALAM PERAWATAN JIWA
Proses therapy
Psikoanalisisa menggunakan “ free association “ and analisa minimal
1.Yang dianalisa adalah masalah penting yang dialami sekarang - Psychioanalycal Model Develop by signuand freud
Central concept : id ego dan super ego
Ego defence machanism: Unconscious level of mental fungtioning
Symptont are symbols by the ariginal conflict
Contoh : obsessive compulsive – cuci tangan
hubungannya dgn masa lalu. Kalau tdk ada hubungan tdk usah dikaji lebih lanjut
Psikoanalisa teori kontemporer : Erikson, Anna Freud, Melania Klien, karen Horney
2.Interpersonal Model
Develop by Peplau, H,S. Sullivan
Penekanan pd hubungan interpersonal :
Pengalaman interpersonal : Good me, bad me not me
Jangan sering mengatakan pd anak, “kamu salah”
Kecemasan timbul jika rasa aman tdk terpenuhi dan merasa ditolak Sebab individu membutuhkan rasa aman dan kepuasan
Proses therapy : mengoreksi pengalaman interpersonal dgn memberikan pengalaman hubungan interpersonal yg positif dgn therapy
Therapist moderen klien secara aktif untuk membangun trust
Reedukasi : Identifikasi problem - encourage more succesful style dlm hubungan interpersonal
3.Social Model
Develop by Caplan
Asumsi : lingkungan sosial mempengaruhi individu dan pengalaman seseorang
Lingkungan sosial - penyebab stress - penyimpangan prilaku, orang yg punya limited social support - predisposisi untuk laladaptive coping respon
Social therapy
Membantu klien menangani sos-sistem
Krisis intervensi
Manipulasi sistem pendukung social (social support)
4.Existensial Model
Develop by Cart Regers
Existensi seseorang sebagai manusia
Penyimpangan prilaku : self alienated ( terasing ) feel helpless, sad, lonely
self criticise - hambatan dlm berhubungan dgn orang lain
Prose therapeutik : membantu klien mengeksploitasi diri dan menerimanya
5.Medical Model :
Fokus :
Diagnosa mental illness - treatment based on diagnosa
Somatic treatment :
Pharmacotherapy dan Electrocanvulsive therapy
Moderen psyhiatric care are dominated by medical model
Penyimpanan perilaku merupakan gejala dari gangguan pd susunan syaraf pusat
6.Islamic Model ( disadur dari Horikoshi 80)
Polarisasi struktural - World - diri manusia - keadaan
Knowledge - Tuhan - Akal - Selamat and culture
Cool (dingin)
Nature (Hot) - Setan - Jasad - Celaka
Gangguan Jiwa :
physiolocal disorder yg disebabkan oleh panas yg sangat tinggi yg diabsorbsi oleh pasien dari setan yg mempengaruhi jiwa manusia
Proses Terjadinya :
Panas yg sangat tinggi itu membakar darah manusia dan memblok saraf ke otak dgn kontaminasi darah kotor. Ini mengakibatkan kurangnya darah segar yg mengalir di otak sehingga pikiran menjadi sangat panas dan merusak fungsinya untuk menerima kebijaksanaan dan kata-kata tuhan
Terapi bertujuan mengembalikan keseimbangan “ hot and cool substance “ dlm diri manusia
D.MODEL KEPERAWATAN
Dasar :
1.Rentang
Sehat———————— sakit
Adaptif Maladaptif
2.Nursing Model
Peplau Interpersonal Model
Nursing :
a significant, therapeutik and interpersonal proces
Essence of nursing : relationship nurse – client
Nurse harus memahami diri
Dapat berinteraksi dgn klien
Orem :
Self care adalah tingkah laku yg dipelajari dan disegaja yg ditampilkan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya.
Kemampuan seseorang memenuhi kebutuhannya tergantung pd situasi dan kondisinya
E. ASPEK ETIK DAN LEGAL
Etik dan Legal Psychiatry
Tension between individual
Ringth and social need
Legal content of care sangat penting karena ini berfokus pd patient ringht dan kualitas pelayanan yg diterima oleh pasien
1.Hospitalized Patient
Apakah pasien dgn psikosa diijinkan untuk menandatangani formulir (ijin) dirawat - jika tidak / ….
Di USA sejak thn 1940 : 90 % involuntary, 10 % voluntary tapi akhir-akhir ini 73 % dari1,6 juta pasien yg datang berobat adalah voluntary.
Di Idonesia
Involuntary - Justifikasinya : pasien dgn gangguan jiwa yg mempunyai satu atau lebih dari hal-hal berikut :
- Berbahaya untuk diri sendiri dan orang lain
- Membutuhkan treatment
- Tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya
2.Dangerousmenss
apakahSberapa besar kemungkinan pasien berbahaya untuk orang lain pasien dikurung karena alasan bahwa dia akan berbahaya pd orang lain, dpt diterima ?
(pasien dikurung/diikat tdk etis karena melanggar hak, dia dikurung boleh asal ada alasan karena mengganggu
3.Freedom of choice
Siapa yg berhak mengambil keputusan tentang yg terbaik untuk pasien harus secara “ involuntary “ dirawat ?
Pasien:
Family memberikan
Health care provider
Judicial system
4.Discharge
5.ECT
F. WHO
Kes. Jiwa bukan hanya suatu keadaan tdk ganguan jiwa, melaikan mengandung berbagai karakteristik yg bersifat positif yg menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yg mencerminkan kedewasaan kepribadian yg bersangkutan
G.UU KES. JIWA NO 03 THN 1966
Kondisi yg memungkinkan perkembangan fisik, intelektual emosional secara optimal dari seseorang dan perkebangan ini selaras dgn orang lain.
H.YAHODA
Kes. Jiwa adalah keadaan yg dinamis yg mengandung pengertian positif, yg dapat dilihat dari adanya kenormalan tingkalaku, keutuhan kepribadian, pengenalan yg benar dari realitas dan bukan hanya merupakan nkeadaan tanpa adanya penyakit, gangguan jiwa dan kelainan jiwa
I.CIRI-CIRI SEHAT JIWA MENURUT YAHODA
1.Sikap positif terhadap diri sendiri
2.Tumbuh kembang dan aktualisasi
3.Terintegrasi
4.Otonomi
5.Realitas persepsi
6.Penguasaan lingkungan
J.SEHAT MENTAL/KESEHATAN JIWA
It is the capacity of the individual to interact effectively with the environment. Good mental health means happiness, competence, a sense of pawer over ones live, positive feelings of self esteem andcapacies to love, work and play. Good mental health also allow individual to deal appropriately eith difficult live event ( the ministry of helath australia)
K.MASLOW
The achievent of self actualization including an understanding od self and reality, the expression of emotionality and spontaneity and the achievement of life goals
Kondisi yg memungkinkan seseorang berkembang secara optimal baik fisik, emosional dan intelegensi dan berjalan selaras / serasi dgn orang lain ( WHO)
L.KRITERIA SEHAT MENTAL MENURUT YAHODA
1.Sikap positif terhadap diri sendiri
2.Tumbuh, berkembang dan aktualisasi
3.Integrasi : Masa lalu dan sekrang
4.Otonomi dlm pengambilan kupusan
5.Persepsi sesuai kenyataan
6.Menguasai lingkungan : mampu beradaptasi
Tidak absolut, ada dlm rentang (Sehat – Sakit)
Sehat …………………………Sakit
Optimal G. Jiwa
M.MENTAL ILLNESS
An illness with psychologyc o]r behavioral manifestations and or impairment infungctioning due to a social, psychologic, generic, physical / chemical, or biologic disturbunce ( stuard dan Sundeen 1998 )
N.KARAKTERISTIK :
Gangguan dlm fungsi seperti skizofrenia. Depresi, kecemasan, keluhan fisik tanpa adanya penyebab secara organik.
Perubahan yg tiba-tiba ( mood behavior ). Harapan yg tdk rational
Ada 2 kategori : Psikotik dan Non spikotik
O.TANDA DAN GEJALA G. JIWA
Kapan seseorangg dikatakan mengalamai gangguan jiwa
Normall dan Abnormal
Gejala gangguan jiwa merupakan interaksi dari berbagai penyebab sebagai proses penyesuaian terhadap stressor
P.GEJALA GANGGUAN JIWA DPT BERUPA GANGGUAN PADA :
1.Kesadaran
2.Ingatan
3.Orientasi
4.Efek dan emosi
5.Psikomotor
6.Intelegensi
7.Kepribadian
8.Penampilan
9.Proses pikir, persepsi
10.Pola hidup
Q.PROSES TERJADINYA GANGGUAN JIWA
1.PENYEBAB :
Walaupun gejala utama terdapat pd unsur kejiwaan tapi penyebab utamanya mugkin di badan ( Somatogenik), di lingkungan sosial ( sosiogenik) atau psike ( psikogenik)
Penyebabnya tdk tunggal tapi beberapa penyebab yg terjadi bersamaan dan saling mempengaruhi
Secara umum diketahui bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh adanya gangguan pd otak tapi tdk diketahui secara pasti apa yg mencetuskannya
Stress diduga sebagai pencetus dari gangguan jiwa tapi stress dapat juga merupakan hasil dari bwerkembangnya mental illness pd diri seseorang
Hubungan antara str..ess6s ddan m.ental iillness sangat komplek
Reaksi tiap orang terhadap stress berbeda-beda
Beberapa kemungkinan penyebab gangguan jiwa ( WF. MARA8MIS 1998 )
2.SOMATOGENIK
- Neuroanatomi
- Neurofiologis
- Neurokimia
- Tingkat perkembangan organik
- Faktor pre and perinatal
- Excessive secretion of the neurotransmitter nor epineprine
Excessive secretion of the neurotransintter norepimephrine may be a factor in anxiety disorders - antai ototng 1995
R.FACTOR PSIKOLOGIK
1.Interaksi ibu dan anak
2.Peranan ayah
3.Persaingan antar saudara kandung
4.Hubungan dalam keluarga, pekerjaan dan masyarakat
5.Kehilangan
6.Kosep diri
7.Pola adaptasi
8.Tingkat perkembangan emosi
S.FAKTOR SOSIAL BUDAYA
1.Kestabilan keluarga
2.Pola asuh anak
3.Tingak ekonomi
4.Perumahan
5.Pengaruh rasial dan keagamaan, nilai-nilai
T.PERAN PERAWAT DLM THERAPY DIBIDANG KES. JIWA
Asuhan yg kompeten ( competent of caring )
1.Pengkajian yg mempertimbangkan budaya
2.Merancang dan mengimplementasikan rencana tindakan
3.Berperan serta dlm pengelolaan kasus
4.Meningkatkan dan memelihara kesehatan mental, mengatasi pengaruh penyakit mental - penyuluhan dan konseling
5.Mengelola dan mengkoordinasikan sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan pasien, keluarga staf dan pembuat kebijakan
6.Memberikan pedoman pelayana kesehatan
U.PERAN DAN FUNGSI PSYCHIATRIC NURSE
1.Psychiatric nursing dianggap sebuah profesi sejak akhir abad ke 19 dan sejak awal abad ke 20 profesi tersebut muncul sebagai spesialisasi dgn peran dan fungsinya yg unik.
2.Praktek psyhiatric nursing kontemporer
Psyhiatric nurse dianggap sebagai satu diatas 5 profesi dlm pelayanan jiwa yg lainnya : psyhiatrist psychologist social workes dan marriage dan family therapist
Psyhaitric nursing is an interpersonal proces that promotes and maintaina patien behavior that contributes to integratet fungtional ( stuart dan sundeen 1998 )
Klien dari psyhiatric nurse : individual keluarga, elompok masyarakat
Praktek keperawatan jiwa pd akhir-akhir ini mengacu pd sejumlah premise atau kepercayaan sebagai berikut:
Philosophicall belief of \nursing Practise
Menggunakan pengetahuan dari blophyysical, psychosocial. Sciieens teotty personality dan human behavior
Pemilihaan dari model-model konseptual
Era globalisasi - praktek harus dpt dipertanggungg jawabkan
Nurse patien rationship berubah menjadi nurse patient partnership, yg mengembangkan peran dari perawat jiwa profesional yg elemennya terdiri dari:
Kompetensi klien dan keluarga
Advocacy klien dan keluarga
Fisical responsibility
Kolaborasi dgn profesi lain
Social accountability
Legal ethical parameteer
Peran perawat tdk lagi hanya berfocus pd bedside care :
Perawat jiwa harus lebih sensitif pd lingkungan social anda advocacy terhadap kebutuhan klien dan keluarga
Pengembangan praktek, pendidikan dan riset
3.Tingkat Pencegahan
Primer : Insiden gangguan jiwa
Health promotion, illness prevention
Penyuluhan
Sekunder : illness by eart detection dan treatment of the problem. Skreening, home visit, crisis intervention
Tertier : residual impairment or disability :
Promote vovational dan rehabilitation
Organisation after care programe
Providing partial hospitalization
4.Rentang dari Perawatan (continuum of care )
5.Tingkat Penampilan
Tergantung pd 4 faktor
Hukum / Peraturan
Peraturan yg ada pd negara tersebut tentang peran dan fungsi psychiatric nurse
Kualifikasi
RN ( Psychiatric mental health registered nurse)
Psychiatric mental Health advence practise registred nurse
Setting praktek : purpose type, location administrasi
Di pemerintah
Di swasta
Personal inistif
V.PATEINT RIGHT
( Diadopsi dari Royal Hobart Hospital 1996)
1.Diberi informasi tentang alasan dirawat, diagnosa dan treatmen
2.Memperoleh perlindungan hukum jika diperlukan
3.Mempunyai hak untuk reviw, treatment yg diberi secara berkala
4.Hak untuk komplain jika pelayanan tdk memuaskan atau tdk sesuai standar
5.Hak untuk mendak treatmen kapanpun mereka ingin
6.Hak untuk menghubungkan keluarga dan teman
7.Confidentiality dan pryvacy
8.Terlibat dlm perencanaan pelayanan
9.Mendapatkan informasi tentang perubahan dlm asuhan
10.Hak untuk menghadap direktur RS untuk complain
11.Mendapatkan saran tentang obat-obatan dan self care
12.Menolak terlibat dlm penelitian
13.Diberi inform concent sebelum tindakan
14.Hak untuk meninggalkan RS kapanpun
15.Hak untuk dikunjungi kensultan psychiatri or psyahite nurse concultan minimal 1 kali dalam 24 jam
16.Dilindungi dari sexual harrassment dan abuse
W.HAK- HAK PASIEN
( Patient Right)
1.Hak untuk dihormati sebagai manusia
2.Hak memperoleh privacy
3.Hak untuk mempunyai kesempatan yg sama dan warga negara lainnya dlm pelayanan kesehatan pendapatan, pendidikan pekerjaan perumahan, transportasi dan hukum
4.Hak untuk mendapatkan informasi, pendidikan dan training ttg G.jiwa, pengobatan perawatan dan pelayanan yg tersedia
5.Hak untuk bekerja atau berinteraksi dgn tenaga kesehatan, khususnya dlm pengambilan keputusan sehubungan dgn tretment, perawatan dan rehabilitasi
6.Hak untuk komplain
7.Hak untuk mendapatkan advocacy
8.Hak untuk menghubungi teman dan saudara
9.Hak mendapatkan pelayanan yg mempertimbangkan budaya, agama dan jenis kelamin
10.Hak untuk hidup, bekerja dan berpartisipasi dlm masyarakat tanpa diskriminasi
PATIENT RIGHT, PERLU PERHATIAN ?
1.Banyak pasien terlantar dijalanan
2.Bicara kasar kepada pasien
3.Menelantarkan pasien
X. KEBERADAAN PELAYANAN KESEHATAN MENTAL
Untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan promotion of mental health
DULU :
Patien Gangguan Jiwa dianggap sampah, memalukan dipasung
SEKARANG :
Meningkatkan Iptek
Pengetahuan masyarakat tentang gangguan jiwa meningkat
Human right
Penting meningkatkan mutu pelayanan dan perlindungan konsumen, perlu pemahaman tentang human right
Sayangnya di Indonesia perhatian terhadap hal ini belum banyak
Z.PRINSIP ASKEP JIWA
1.Peran dan fungsi perawat jiwa
2.Hubngan terapeutik perawat – pasien
3.Model dlm praktek kesehatan jiwa psikiatrik
4.Konteks biopsikososial askep jiwa
5.Kontek etik dan lega
6.Implementasi standar praktek klinik
7.Rentang asuhan
EXAMPLE: ASKEP KLIEN DGN SKIZOFRENIA
1.Maladaptive neurobiological respons
2.Gangguan orientasi realitas
3.1.1 % populasi - skizofrenoa
4.25 % klien skizofrenia - sebelimnya post psycotic defresion ( weiss, 1989 )
5.risk 0- > 0+
FAKTOR PENYEBAB
1.Genetika ( cloninger 1989 )
Ayah, ibu saudara anak, 10 % diturunkan keponakan,cucu 46 – 48 % diturun2-4 % Diturunkan kembar monozygote
Kembar dizigot 14 – 17 %
2.Neurobiologikal
Terjadi pembesar ventrikel III pd posies sebelah kiri :
Lobus frontal klien skizofrenia ( dari orang normal, Andreasen, 1991)
Wernicle dan Brocas aphasia disorganisasi pd waktu bicara
Hiperaktifitas dopamine
3.Neurobehavioral
Kerusakan lobus Frontal - kesulitan dlm proses pemecahan masalah, berpikir abstrak, G. Psikomotorik
Kerusakan pd basal ganglia - distonia tremor
Gangguan pd lobus temporal limbic - meningkatnya kewaspadaan, distractbility, gangguan memory ( Short Term )
4.Stress
Stress psikososial dan perkembangan - gejala psikotik, kemiskinan, kebodohan, pengangguran, isolasi sosial, kehilangan
5.Penyalagunaan :
Coping yg maladaptif - obat- obatan
6.Psikodinamika
Freud : gangguan hubungan pd masa anak
STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN
Oleh : ASOSIASI PERAWAT AMERIKA
(ANA)
Standar Praktek Keperawatan Klinik KeS. Jiwa (Psikhiatric)
1.Menguraikan tingkat kompetensi askep, profesional dan kenerja profesional yg umum untuk perawat yg terlibat ditiap tatanan praktek klinik kesehatan jiwa
2.Standar asuhan :
Berhubungan dgn aktifitas keperawatan profesional yg dilakukan oleh perawat dgn melalui proses keperawatan :
Pengkajian St I
Diagnosa St II
Identifikasi hasil St III
Perencanaan ST IV
Implementasi ST V
Konseling, terapi lingkungan,
Aktifitas askep mandiri, intervensi Psikobiologis, penyuluhan kesehatan, manajemen kasus, pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, Psikofarmakologi Psikoterapi, konsultasi
3.Evaluasi :
Standar Kinerja Profesional
St I : Kualitas asuhan
St II : Penilaian kinerja
St III : Pendidikan
St IV : Hub.dgn sejawat
St IV : Etika
St V : Kolaborasi
St VI : Riset
ZZ. PENGEMBANGAN ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
A.Konsep Pencegahan Primer
Analog : Imunisasi
Orang disiapkan untuk melewati setiap tahap perkembangannya dgn baik
Hal-hal yg perlu dicegah :
1.Perilaku Khusus :
- Mengalah / membahayakan
- Overacting
- Menunda / lamban
- Mengelak
- Menyalahkan orang lain
2.Kegagalan berperan sebagai orang tua, pelajar
3.Hubungan yg tertutup :
- Suami – Istri
- Ortu – anak
- Boss – anak buah
4.Perasaan yg berlebihan :
- Panik, cemas situasi baru fligth
( Perilaku menyerang ) temper tantrum
( Ngadat)
5.Ketidak mampuan Psikologis
- Proses berkabung yg Patologis
B.Meningkatkan Kes.Jiwa Keluarga Hal Penting :
Perawat harus memahami tumbuh kembang keluarga dan individu
Prevensi primer, sekunder, tertier
4 STRATEGI PENCEGAHAN PRIMER
1.Healt Education :
Meningkatkan kemampuan mengotrol diri sendiri, strategi coping yg efektif, realistis terhadap harga diri, sadar akan sumber daya
2.Merupakan lingkungan :
Keluarga
Masyarakat
Misalnya :ada anak yg marah - masyarakat mengejek, ia perlu healt edication untuk masyarakat
3.Sistem sosial yg mendukung :
memperluas dan memperkuat jaring sosial
menggunakan sistem pendukung di masyarakat
4.Bekerja dgn kelompok
Jadi terapi kelompok
Tujuan :
Kontrol perilaku – menurunkan stress
Memelihara self esteem dan integritas sosial
Evaluasi :
Penting
Sukar : long term
KETERANGAN :
4 Konteks Biopsikososial keperawatan jiwa
Praktek keperawatan Psikiatri kontemporer - Use model yg mengintegrasikan aspek bio psiko, dan sosialkultural individu dlm pengkajian, perencanaan dan peimplemetasikan intervensi keperawatan
7 . Rentang Asuhan
Pencegahan Primer
Pencegahan Sekunder
Pencegahan Tertier
Pengkajian Kebutuhan Pasien termasuk :
1.Stressor yg mempercepat respon maladaptif
2.Target atau kel. Populasi yg rentang beresiko tinggi suhubungan dgn stressor, termasuk anak-anak keluarga baru, keluarga yg mengalami perceraian atau penyakit, wanita dan lanjut usia
IZ. PERAWATAN KES. JIWA
Pengkajian
Pengumpulan Data :
Sumber Data
Jenis data
Tehnik pengumpulan data
Kerangka konsep
1.Identitas Klien
2.Keluhan utama :
- Alasan masuk / Apa yg menyebabkan masuk
3.Faktor presdiposisi
4.Aspek fisik / biologik
5.Aspek psikososial
6.Status mental
7.Kebutuhan persiapan pulang
8.Mekanisme koping
9.Masalah psikososial dan ligkungan
10.Pengetahuan
11.Aspek medik
Alasan Masuk
- Masalah aktual berdasarkan keluham utama
Faktor yang mempengaruh terjadinya gangguan jiwa pd individu bersangkutan :
1.Apakah klien klien tersebut sudah pasrah mengalami gangguan jiwa sebelumnnya
2.Pengobatan berhasil / tidak
3.Terkait dengan masalah terminal
Aspek Fisik / Biologi
- TD, Pernapasan, BB, TB (komprehensif)
Aspek Psikososial
1.Genogram generasi
- tidak mutlak generasi yg utama dgn siap k/ tinggal (pola asuh, komunikasi pengambilan keputusan )
2.Pola Asuh :
- Kehangatan
- Kontrol
3.Data diperoleh dgn pertanyaan :
- Bagaimana prilaku yg spesifik pd keluarga
- Apakah ada anggota keluarga lain yg pernah mengalami gangguan jiwa
- Bagaimana komunikasi pd keluarga tersebut
- Siapa orang yg terdekat dgn klien secara emosi / psikologis
4.Konsep diri ( gambaran diri, ideal diri, pesan, identitas)
5.Hubungan sosial
- Apakah klien mengikuti kegiatan yg ada dilingkungan
6.Status mental :
- Penampilan
- Pembicaraan
- Aktivitas motorik
- spritual
PENGKAJIAN
Kemampuan :
1.Kesadaran / titik diri
2.Observasi
3.Kom ter
4.Respek
Kesalahan :
1.Memberi pendapat
2.Menyimpulkan
Deskripsikan / interpretasikan sebagai data
Pohon Masalah
Efek
Care Problem
Causa
ANALISA DATA
1.Mengkaitkan - Data
2.Menghubungkan - Konsep - Teori - Prinsip
Kesimpulan :
1.Kesenjangan
2.Masalah kesehatan / keperawatan
a.Validasi
b.Klasifikasi
c.Bandingkan
d.Buat kesimpulan
e.Temukan etiologi
Daftar masalah keperawatan disusun sesuai prioritas :
1.Cara memprioritaskan masalah
- Fokus pd ancaman kehidupan
- Fokus keluarga/masalah utama
- Fokus akibat dengan masalah utama
- Fokus sebab dengan masalah utama
- Fokus kebutuhan
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Penilaian klinis tentang respon individu, keluarga, kelompok, komunitas terhadap proses kehidupan dan atau masalah kesehatan dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia yang mendasari intervensi keperawatan yang menjadi tanggung gugat perawat.
KOMPONEN DALAM DIAGNOSA KEP JIWA
1.Problem keadaan
2.Etiologi
3.Symptom
PROBLEM
Keadaan senjangan klein dgn faktor yg memberi gambaran dimana d/ keperawatan harus diberikan
ETIOLOGI
Penyebab masalah menunjukkan penyebab keadaan kesehatan yang memberi arah d/ keperawatan
SYMPTOM
Tanda-tanda dan gejala menggambarkan apa yg klien katakan dan apa yang diobservasi perawat
KOMPONEN
1.Subjek
2.K. Kerja
3.keadaan
4.Kriteri
5.Waktu
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1.Serangkaina kegiatan tindakan
2.Susuai tindakan
3.Tiap tujuan khusus
TINDAKAN KEPERAWATAN
1.Observasi dan onitoring
2.Tindakan keperawatan
3.Pendidikan kesehatan
4.Therapy keperawatan
5.Tindakan kolaborasi
EVALUASI
1.Penilaian pencapaian Tujuan
2.Perubahan / perbaikan rencana :
- Orentasi tujuan
- Respon verbal dan non verbal
- Analisa keberhasilan
Catatan :
1. IQ = Insting , nasluri
2. EGO = Yg mempertahankan diri sampai tahu realitas
3. S. EGO = Nilai norma untuk diinternalisasi
Sumber:
- Hamid, Achir Yani. (2000). Buku Pedoman Askep Jiwa-1 Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
- Isaacs, Ann. (2005). Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
- Keliat, Budi Anna. (2006) Proses keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
- Maramis, W. F. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 9. Surabaya: Airlangga University Press.
- Townsend, Mary. C. (2000). Psychiatric Mental Health Nursing Concepts Of Care. Edisi 3. Philadelphia: F. A. Davis Company
- Stuart dan Laraia. (2001). Principle and Practice Of Psychiatric Nursing. edisi 6. St. Louis: Mosby Year Book

Kamis, 19 Februari 2009

pencegahan infeksi gigi

PENYEBARAN INFEKSI PADA GIGI

PENDAHULUAN

penyakit infeksi dapat ditularkan selama perawatan gigi, antara lain TBC, sifilis, hepatitis A, B, C, AIDS, ARC, herpes, dan lain-lain. Dengan melakukan tindakan pencegahan infeksi dapat dicegah terjadinya infeksi yang berbahaya, bahkan dapat mencegah terjadinya kematian. Sumber infeksi yang potensial pada praktek dokter gigi termasuk tangan, saliva, darah, sekresi hidung, baju, rambut juga alat-alat/instrumen dan perlengkapan praktek lainnya harus dijaga sterilitasnya untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi.

Kontaminasi dari rongga mulut dan luka terbuka dapat disebarkan oleh udara, air, debu, aerosol, percikan atau droplets, sekresi saluran pernafasan, plak, kalkulus, bahan tumpatan gigi dan debris. Flora mulut yang patogen dari pasien dapat ditransmisikan pada jaringan atau organ (autogenous infection) seperti katup jantung, sendi artificial, dan jaringan lunak sekitarnya, dan tulang.

1. .Prosedur pencegahan penularan penyakit infeksi antar lain aalah evaluasi pasien, perlindungan diri, sterilisasi dan desinfeksi, pembuangan sampah yang aman dan tindakan asepsis termasuk juga dalam laboratorium tehnik gigi.

2. Metode sterilisasi dan asepsis masa kini pada praktek dokter gigi dan laboratorium gigi secara nyata telah menurunkan resiko terjadinya penyakit pada pasien, dokter gigi, dan stafnya.

























Tinjauan

Jalur utama penyebaran mikroorganisme pada praktek dokter gigi adalah melalui : (
1. Kontak langsung dengan luka infeksi atau saliva dan darah yang terinfeksi.
2. Kontak tidak langsung dari alat-alat yang terkontaminasi.
3. Percikan darah, saliva atau sekresi nasofaring langsung pada kulit yang terluka maupun yang utuh atau mukosa.
4. Aerosol atau penyebaran mikroorganisme melalui udara.

Kontrol infeksi secara umum
Dokter gigi tidak mungkin yakin bahwa pasien yang datang untuk perawatan giginya adalah carrier mikroorganisme infektif atau bukan, oleh karena itu semua pasien yang datang harus dianggap merupakan carrier dari mikroorganisme patogen. Semua prosedur klinis yang dilakukan pada semua pasien harus dilakukan dengan menggunakan kontrol infeksi yang umum.

Banyak sumber penularan infeksi pada praktek dokter gigi antara lain tangan, saliva, sekresi saluran pernafasan, darah, pakaian, dan rambut, demikian pula instrumen gigi serta peralatan lainnya harus betul-betul diperhatikan untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi.

Kontaminasi dari rongga mulut dan luka yang terbuka dapat disebabkan oleh udara, air, debu, aerosol, percikan atau droplet, sekresi saluran pernafasan, plak, karang gigi, bahan tumpatan gigi serta debris. Flora mulut pasien yang patogen dapat masuk ke dalam jaringan lain atau organ (autogenous infection) seperti pada katup jantung yang lemah, sendi palsu dan jaringan lunak sekitarnya atau tulang. (1)

Infeksi melalui udara
Mikroorganisme yang ditularkan melalui udara terdapat pada aerosol yang terhirup dan karenanya dapat menyebabkan penyakit influenza, commond cold, dan tuberkulosis. Bila terjadi aerosol misalnya oleh instrumen kecepatan tinggi, terbentuk percikan-percikan dengan ukuran yang berbeda-beda. Percikan yang diameternya lebih besar dari 100 nanometer yang dinamakan splatter akan cepat jatuh oleh gaya tarik bumi, sedang percikan yang umum terjadi adalah berukuran diameter kurang dari 100 nanometer. Percikan kecil ini dengan cepat menguap dan tetap ada pada udara selama beberapa jam sebagai droplet nuclei yang mengandung saliva atau sekresi serum yang kering dan mikroorganisme.

Infeksi melalui benda tajam dan jarum suntik
Jlur utma terjadinya penularan penyakit infeksi dalam bidang kedokteran gigi yaitu melalui kulit atau mukosa yang terluka oleh benda tajam atau jarum suntik, termasuk di sini adalah penyebaran penyakit hepatitis B dari pasien ke dokter gigi dan sebaliknya yang sudah terbukti.







Prosedur pencegahan infeksi


Prosedur pencegahan infeksi ada beberapa tahap :
- Evaluasi pasien
- Perlindungan diri
- Sterilisasi instrumen
- Disinfeksi permukaan
- Laboratorium yang asepsis
- Pembuangan sampah

Evaluasi pasien
Harus diketahui riwayat kesehatan yang lengkap dari tiap-tiap pasien dan perbaharui pada tiap tahap kunjungan berikutnya. Hal ini dimaksudkan agar dapat diketahui adanya infeksi silang yang kemungkinan terjadi pada praktek dokter gigi. Harus diperhatikan mengenai adanya penyakit infeksi yang berbahaya.

Perlindungan diri
Dalam hal ini termasuk :
- Kebersihan diri.
- Pemakaian baju praktek.
- Proteksi misalnya sarung tangan, kacamata, masker, dan rubber dam.
- Imunisasi.

Kebersihan diri
Kebersihan diri yang baik dapat mengurangi terjadinya infeksi silang pada praktek dokter gigi. Secara umum pada waktu merawat pasien seorang dokter gigi harus :
- Hindari memegang sesuatu yang tidak dibutuhkan pada waktu merawat pasien, hindari kontak tangan dengan mata, hidung, mulut, dan rambut serta hindari memegang luka atau abrasi.
- Tutupi luka atau lecet-lecet pada jari dengan plester sebab luka tersebut dapat merupakan tempat masuknya mikroorganisme patogen (harus memakai sarung tangan).
- Cuci tangan dengan baik sebelum dan setelah merawat pasien dengna memakai sabun antimikrobial (mis. klorheksidin glukonat) sebelum memakai sarung tangan.

Pemakaian baju praktek
- Dokter gigi dan stafnya harus memakai baju yang bersih dan baru dicuci.
- Baju tersebut harus diganti setiap hari dan harus diganti saat terjadi kontaminasi.
- Baju praktek harus dicuci dengan air panas dan deterjen serta pemutih klorin, untuk baju yang terkontaminasi perlu penanganan tersendiri.

Bakteri patogen dan beberapa virus, terutama virus hepatitis B dapat hidup pada pakaian selama beberapa hari hingga beberapa minggu.



Proteksi
Untuk maksud ini harus menggunakan :
- Sarung tangan
- Kacamata
- Masker
- Rubber dam

1 Sarung tangan
Tangan merupakan alat transmisi dari mikroorganisme pada saluran pernafasan dan mulut yang utama. Kuku harus digunting pendek dan tidak boleh memakai perhiasan seperti cincin, gelang, dan jam tangan pada saat merawat pasien. Tangan harus dicuci dengan sikat dan sabun yang mengandung zat antimikrobial seperti iodofor (1% iodine), klorheksidin glukonat (2-4%), para-klormeta-silenol (PMCX) 0,5-3% atau alkohol (70% isopropil aklohol) dan lain-lain. Tangan digosok paling sedikit selama 10 detik dan dikeringkan dengan memakai pengering otomatis atau tissue.

Semua dokter gigi dan stafnya harus memakai sarung tangan lateks atau vinil sekali pakai. Hal ini untuk melindungi baik dokter gigi atau stafnya maupun pasien. Sarung tangan vinil dapat dipakai untuk mereka yang alergi terhadap lateks, walaupun hal ini jarang terjadi.

Ada tiga macam sarung tangan yang dipakai dalam kedokteran gigi yaitu :
Sarung tangan lateks yang bersih harus digunakan pada saat dokter gigi memeriksa mulut pasien atau merawat pasien tanpa kemungkinan terjadinya perdarahan.
- Sarung tangan steril yang harus digunakan saat melakukan tindakan bedah atau mengantisipasi kemungkinan terjadinya perdarahan pada perawatan.
- Sarung tangan heavy duty harus dipakai manakala harus membersihkan alat, permukaan kerja atau bila menggunakan bahan kimia.

Semua luka dan lecet-lecet pada kulit harus ditutup dengna plester yang kedap air sebelum memakai sarung tangan. Jangan merawat pasien bila sedang mengalami luka yang bernanah atau dermatitis yang terbuka hingga luka tersebut benar-benar sembuh.

Pakai 1 sarung tangan untuk tiap pasien, jangan memakai ulang sarung tangan karena akan mengurangi nilai protektifnya.

2 Kacamata pelindung
Kacamata pelindung harus dipakai oleh dokter gigi dan stafnya untuk melindungi mata dari splatter dan debris yang diakibatkan oleh high speed handpiece, pembersihan karang gigi baik secara manual maupun ultrasonik.

Rambut hendaknya jangan menutupi pandangan dan diikat bagi dokter gigi yang memiliki rambut panjang serta dilindungi dari percikan dan aerosol dengan memakai penutup kepala, sebaiknya dokter gigi mencuci muka sebelum makan dan juga mencuci muka serta rambut sebelum tidur. Bakteri patogen dan beberapa virus terutama virus hepatitis B dapat hidup pada pakaian selama beberapa hari hingga beberapa minggu.



2 Masker
Pemakaian masker seperti masker khusus untuk bedah sebaiknya digunakan pada saat menggunakan instrumen berkecepatan tinggi untuk mencegah terhirupnya aerosol yang dapat menginfeksi saluran pernafasan atas maupun bawah.

Efektivitas penyaringan dari masker tergantung dari :
- Bahan yang dipakai, masker polipropilen lebih baik daripada masker kertas.
- Lama pemakaian, lama pemakaian yang efektif adalah 30-60 menit, terutama bila masker itu basah. Jadi sebaiknya memakai 1 masker untuk tiap pasien.

3 Rubber dam
Rubber dam harus digunakan pada operasi untuk menghindari terjadinya aerosol. Pemakaian rubber dam memungkinkan :
- Mendapat gambaran yang jelas setelah jaringan diangkat.
- Mengurangi kontak instrumen dengan mukosa, sehingga mengurangi terjadinya luka pada jaringan dan mengurangi perdarahan.
- Mengurangi terjadinya aerosol karena tidak terjadi pengumpulan saliva diatas rubber dam.

4 Imunisasi
Dokter gigi dan mereka yang bekerja dalam bidang kedokteran gigi harus memiliki data imunisasi yang baru. Di Inggris vaksin hepatitis B, tuberkulosis dan rubella (bagi dokter gigi wanita) dianjurkan untuk mereka yang bekerja dalam bidang kedokteran gigi sebagai tambahan dari imunisasi rutin seperti tetanus, poliomyelitis dan difteri. Di USA dianjurkan imunisasi terhadap semua penyakit ini kecuali TBC dan influenza.





















Metode asepsis

Selama perawatan gigi banyak benda, instrumen, dan peralatan di kamar praktek yang terkontaminasi baik secara langsung melalui tangan atau melalui splatter dan aerosol. Usahakan agar barang-barang yang dibutuhkan di ruang praktek seminimal mungkin dan tentukan mana yang dapat ditutupi, disterilkan atau didisinfeksi. Tentukan mana yang harus dibersihkan tiap hari dan mana yang cukup dibersihkan seminggu sekali, lantai dan juga permukaan lain yang datar harus didisinfeksi.

Penutupan
Dengan menutupi benda dapat mengurangi kebutuhan untuk desinfeksi. Penutupan yang paling berguna dan sederhana adalah kertas, plastik atau aluminium foil dan diganti tiap pasien.

Alat-alat yang dapat ditutupi :
- Baki instrumen, tutupi dengan bib yaitu kertas yang dilapisi plastik.
- Ujung alat rontgen ditutupi dengan plastik atau kertas yang diberi selotip.
- Tombol-tombol pada unit gigi ditutupi dengan plastik atau aluminium foil.
- Sandaran kepala dibungkus dengan penutup dari plastik atau kantung khusus.
- Three way syringe dilapisi dengan plastik, dapat pula menggunakan ujung sekali pakai (disposable) atau yang dapat disterilkan.
- Ujung dari blood suction dilapisi dengan kantung plastik yang ujungnya digunting untuk memasukkan ujungnya.
- Pegangan lampu ditutupi dengan aluminium foil, kertas atau sepon berukuran 4 x 4 inci. Untuk beberapa unit terdapat pegangan yang dapat disterilkan.
- Ujung dari alat untuk menyinari tumpatan komposit, pegangan dan tombol trigger ditutupi dengan pembungkus plastik dan diberi selotip.

Beberapa alat-alat yang tidak dapat ditutupi, harus disterilkan atau didesinfeksi. Daerah operasional dapat dibersihkan dan didesinfeksi selama kurang lebih 10 menit.

















Sterilisasi dan desinfeksi


Sterilisasi adalah proses yang dapat membunuh semua jenis mikroorganisme sedang desinfeksi adalah proses yang membunuh atau menghilangkan mikroorganisme kecuali spora. Idealnya semua bentuk vegetatif mikroorganisme mati, namun dengan terjadinya pengurangan jumlah mikroorganisme patogen sampai pada tingkat yang tidak membahayakan masih dapat diterima.

Sterilisasi dilakukan dalam 4 tahap :
- Pembersihan sebelum sterilisasi.
- Pembungkusan.
- Proses sterilisasi.
- Penyimpanan yang aseptik.

Dalam bidang kedokteran gigi pembersihan dapat dilakukan dengan :
- Pembersihan manual
- Pembersihan dengan ultrasonik

Sebelum disterilkan alat-alat harus dibersihkan terlebih dahulu dari debris organik, darah, dan saliva. Asisten dokter gigi yang membersihkan alat tersebut harus memakai sarung tangan heavy duty.

Pembersihan dengan memakai alat ultrasonik dengan larutan detergen lebih aman, efisien, dan efektif dibandingkan dengan penyikatan. Gunakan alat ultrasonik yang tertutup selama paling tidak 10 menit. Setelah dibersihkan, instrumen tersebut dicuci dibawah aliran air dan dikeringkan dengan baik sebelum disterilkan. Hal ini penting untuk mendapatkan hasil sterilisasi yang sempurna dan untuk mencegah terjadinya karat.

Pembersihan dengan ultrasonik lebih baik sebab :
- Meningkatkan efisiensi pembersihan
- Mengurangi bahaya aerolization dari partikel yang infeksius
- Mengurangi insiden terluka akibat benda tajam
- Mengurangi waktu kerja

Pembungkusan
Setelah dibersihkan, instrumen harus dibungkus untuk memenuhi prosedur klinis yang baik. Instrumen yang digunakan dalam kedokteran gigi harus dibungkus untuk sterilisasi dengan memakai :
- Nampan terbuka yang ditutup dengna kantung sterilisasi yang tembus pandang.
- Nampan yang berlubang dengan penutup yang dibungkus dengan kertas sterilisasi.
- Bungkus secara individual dengan bungkus untuk sterilisasi yang dapat dibeli.





Proses sterilisasi


Pada kedokteran gigi, sterilisasi dapat dicapai melalui metode :
- Pemanasan basah dengan tekanan tinggi (autoclave)
- Pemanasan kering (oven)
- Uap bahan kimia (chemivlave)

Metode sterilisasi yang tidak digunakan pada kedokteran gigi adalah gas etilen oksida dan radiasi gamma (yang digunakan pada pabrik alat-alat dari plastik) dan filtrasi (yang digunakan untuk mensterilkan obat suntik).

Pemanasan basah dengan tekanan tinggi
Siklus sterilisasi dari 134 derajat Celcius selama 3 menit pada 207 kPa untuk instrumen yang dibungkus maupun yang tidak dibungkus. (2) Cara kerja dari autoclave sama dengan pressure cooker. Uap jenuh lebih efisien membunuh mikroorganisme dibandingkan dengna perebusan maupun pemanasan kering (oven).. Sterilisasi dapat dilakukan pada suhu 121 derajat Celcius pada 15 psi selama 15 menit atau 132 derajat Celcius pada 30 psi selama 3-7 menit untuk mensterilkan instrumen yang tidak dibungkus, tambahkan 5 menit untuk instrumen yang dibungkus. Instrumen tersebut dapat dibungkus dengan kain muslin, kertas, nilon, aluminium foil, atau plastik yang dapat menyalurkan (permeable) uap.

Pemanasan kering
Penetrasi pada pemanasan kering kurang baik dan kurang efektif dibandingkan dengan pemanasan basah dengan tekanan tinggi. Akibatnya dibutuhkan temperatur yang lebih tinggi 160 derajat Celcius/ 170 derajat Celcius dan waktu yang lebih lama (2 jam/1 jam) untuk proses sterilisasi. Menurut Nisengard dan Newman (1994) (1) suhu yang dipakai adalah 170 derajat Celcius selama 60 menit, untuk alat yang dapat menyalurkan panas adalah 190 derajat Celcius, sedang untuk instrumen yang tidak dibungkus 6 menit.

Sterilisasi uap bahan kimia
Kombinasi dari formaldehid, alkohol, aseton, keton, dan uap pada 138 kPa merupakan cara sterilisasi yang efektif. Kerusakan mikroorganisme diperoleh dari bahan yang toksik dan suhu tinggi. Sterilisasi dengan uap bahan kimia bekerja lebih lambat dari autoclave (30 lawan 15-20 menit pada 138-176 kPa selama 30 menit setelah tercapai suhu yang dikehendaki).

Prosedur ini tidak dapat digunakan untuk bahan yang dapat dirusak oleh bahan kimia tersebut maupun oleh suhu yang tinggi. Umumnya tidak terjadi karatan apabila instrumen telah benar-benar kering sebelum disterilkan karena kelembaban yang rendah pada proses ini sekitar 7-8%. Bahan kimia yang dipakai adalah campuran dari alkohol, formaldehid, keton, aseton, dan air. Keuntungan dari sterilisasi dengan uap bahan kimia adalah lebih cepat dibandingkan dengan pemanasan kering, tidak menyebabkan karat pada instrumen atau bur dan setelah sterilisasi diperoleh instrumen yang kering. Namun instrumen harus diangin-anginkan untuk mengeluarkan uap susa bahan kimia.

Pembungkusan instrumen yang dianjurkan pada metoda ini adalah kain muslin, kertas, dan plastik yang "tembus" (permeable) uap atau nilon.

Penyimpanan dari alat-alat yang steril
Setelah sterilisasi, instrumen harus tetap steril hingga saat dipakai. Penyimpanan yang baik sama penting dengan proses sterilisasi itu sendiri, karena penyimpanan yang kurang baik akan menyebabkan instrumen tersebut tidak steril lagi. Lamanya sterilitas tergantung dari tempat dimana instrumen itu disimpan dan bahan yang dipakai untuk membungkus. Daerah yang tertutup dan terlindung dengan aliran udara yang minimal seperti pada lemari atau laci yang dapat dengan mudah didesinfeksi. Pembungkus instrumen hanya boleh dibuka segera sebelum digunakan, apabila dalam waktu 1 bulan tidak digunakan harus disterilkan ulang.

Disinfeksi dan antiseptik
Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen. Disinfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan ini dinamakan antiseptik.

Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda mati. Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung dari toksisitasnya.

Sebelum dilakukan desinfeksi, penting untuk membersihkan alat-alat tersebut dari debris organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses disinfeksi..

Macam-macam desinfektan yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi :

Alkohol
Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi unguk mendesinfeksi permukaan, namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa.

Aldehid
Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang populer pada kedokteran gigi, baik tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Aldehid merupakan desinfektan yang kuat.

Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alat-alat yang tidak dapat disterilkan, diulas dengan kasa steril kemudian diulas kembali dengan kasa steril yang dibasahi dengan akuades, karena glutaraldehid yang tersisa pada instrumen dapat mengiritasi kulit/mukosa, operator harus memakai masker, kacamata pelindung dan sarung tangan heavy duty.

Larutan glutaraldehid 2% efektif terhadap bakteri vegetatif seperti M. tuberculosis, fungi, dan virus akan mati dalam waktu 10-20 menit, sedang spora baru alan mati setelah 10 jam.

Biguanid
Klorheksidin merupakan contoh dari biguanid yang digunakan secara luas dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptik dan kontrok plak, misalnya 0,4% larutan pada detergen digunakan pada surgical scrub (Hibiscrub), 0,2% klorheksidin glukonat pada larutan air digunakan sebagai bahan antiplak (Corsodyl) dan pada konsentrasi lebih tinggi 2% digunakan sebagai desinfeksi geligi tiruan. Zat ini sangat aktif terhadap bakteri Gram(+) maupun Gram(-).. Efektivitasnya pada rongga mulut terutama disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary mucus.

Senyawa halogen
Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik (misalnya Chloros, Domestos, dan Betadine).

Fenol
Larutan jernih, tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh zat organik. Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah. Namun karena sebagian besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium.

Klorsilenol
Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai desinfektan (misalnya Dettol).

Desinfeksi permukaan
Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme patogen pada benda mati. Disinfektan dibedakan menurut kemampuannya membunuh beberapa kelompok mikroorganisme, disinfektan "tingkat tinggi" dapat membunuh virus seperti virus influenza dan herpes, tetapi tidak dapat membunuh virus polio, hepatitis B atau M. tuberculosis.

Untuk mendesinfeksi permukaan dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan seperti iodophor, derifat fenol atau sodium hipokrit :
- Iodophor dilarutkan menurut petunjuk pabrik. Zat ini harus dilarutkan baru setiap hari dengan akuades. Dalam bentuk larutan, desinfektan ini tetap efektif namun kurang efektif bagi kain atau bahan plastik.
- Derifat fenol (O-fenil fenol 9% dan O-bensil-P klorofenol 1%) dilarutkan dengan perbandingan 1 : 32 dan larutan tersebut tetap stabil untuk waktu 60 hari. Keuntungannya adalah "efek tinggal" dan kurang menyebabkan perubahan warna pada instrumen atau permukaan keras.
- Sodium hipoklorit (bahan pemutih pakaian) yang dilarutkan dengan perbandingan 1 : 10 hingga 1 : 100, harganya murah dan sangat efektif. Harus hati-hati untuk beberapa jenis logam karena bersifat korosif, terutama untuk aluminium. Kekurangannya yaitu menyebabkan pemutihan pada pakaian dan menyebabkan baru ruangan seperti kolam renang.

Untuk mendesinfeksi permukaan, umumnya dapat dipakai satu dari tiga desinfektan diatas. Tiap desinfektan tersebut memiliki efektifitas "tingkat menengah" bila permukaan tersebut dibiarkan basah untuk waktu 10 menit.

Hasil cetakan (impressions)
Tekniker laboratorium gigi dan pasien lain sering kontak dengan mikroorganisme patogen dari cetakan gigi, hasil cetakan (stone casts) dan lain-lain. ADA menganjurkan agar semua cetakan harus dicuci untuk menghilangkan saliva, darah, dan debris, kemudian didesinfeksi sebelum dicor dengan dental stone atau sebelum dikirim ke laboratorium.

Untuk bahan cetak dari alginate sebaiknya tidak direndam, tetapi di spray dengan desinfektan, lalu dimasukkan dalam kantung plastik dan dibiarkan selama beberapa waktu sesuai dengan petunjuk pabrik.

Pembuangan sampah bekas praktek
Pembuangan barang-barang bekas pakai seperti sarung tangan, masker, tissue bekas dan penutup permukaan yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh harus ditangani secara hati-hati dan dimasukkan dalam kantung plastik yang kuat dan tertutup rapat untuk mengurangi kemungkinan orang kontak dengan benda-benda tersebut. Benda-benda tajam seperti jarum atau pisau scalpel harus dimasukkan dalam tempat yang tahan terhadap tusukan sebelum dimasukkan dalam kantung plastik. Jaringan tubuh juga harus mendapat perlakuan yang sama dengan benda tajam.


Pembahasan

Pada orang-orang yang bekerja dalam bidang kedokteran gigi terjadi peningkatan resiko terkena infeksi setelah merawat pasien. Penyebaran penyakit infeksi akibat pekernaan ini terjadi karena sebagian mikroorganisme patogen pada manusia terdapat pada sekresi mulut. Sebagai akibat dari kontak secara terus menerus dengan mikroorganisme yang terdapat pada darah dan saliva, insiden dari beberapa penyakit infeksi secara bermakna terjadi paling banyak pada orang-orang yang bekerja pada bidang kesehatan gigi bila dibandingkan dengan penduduk lainnya. Hepatitis B, tuberkulosis, dan infeksi virus Herpes simplex merupakan penyakit infeksi yang paling sering terjadi.

Sebagian dari masalah terletak pada kenyataan bahwa banyak dokter gigi maupun asistennya tidak menyadari adanya mikroorganisme patogen pada saliva dan darah selama melakukan perawatan. Bahaya ini seringkali tidak disadari oleh karena percikan yang timbul dari mulut pasien tidak terlihat, debris organik terlihat jernih tembus cahaya dan mengering sebagai lapisan jernih pada kulit, pakaian, dan permukaan lainnya. Crawford mendemonstrasikan terjadinya percikan ini dengan jalan mencelupkan jarinya dengan zat warna merah sebelum memulai perawatan, ternyata zat warna tadi terpercik ke berbagai permukaan selama perawatan.

Pada evaluasi pasuen secara umum harus diperoleh data yang berisi nama, usia, jenis kelamin, suku, status perkawinan, pekerjaan, alamat, dan nomor telepon. Riwayat penyakit yang pernah diderita maupun yang sedang diderita, adanya penyakit keturunan harus dicatat, demikian pula keadaan sosial ekonominya, pendidikannya, apakah ia pengguna narkoba atau peminum minuman keras, semua hal-hal tersebut harus diketahui. Hal ini karena dari data tersebut juga dapat diperoleh informasi bahwa pasien tersebut merupakan orang yang beresiko tinggi terkena penyakit infeksi, seperti orang yang bekerja di bidang kesehatan, tentara, imigran dari negara belum berkembang, dan orang yang hidup atau bekerja pada suatu institusi. Sir William Osler bahkan mengatakan : "Jangan pernah merawat orang asing/orang yang tidak dikenal."

Untuk pasien yang menderita penyakit infeksi seperti herpes, hepatitis B, mumps, cacar air, dan lain-lain sebaiknya perawatan ditunda hingga pasien sembuh, kecuali dalam keadaan darurat seperti pulpitis akut atau gangren dimana atap pulpa masih tertutup sehingga pasien sangat menderita kesakitan maka pasien dijadwalkan sebagai pasien terakhir dan kita harus melakukan tindakan pencegahan lengkap termasuk pemakaian rubber dam.

Tangan dokter gigi dan perawat gigi dapat merupakan "alat" yang efektif untuk menularkan infeksi dari pasien ke pasien yang lain. Teknik mencuci tangan yang sederhana dapat merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah infeksi yang didapat dari rumah sakit/praktek dokter gigi.

Surgical scrub yang merupakan pembersihan yang sistematis pada semua permukaan tangan dan jari-jari dengan desinfektan untuk waktu beberapa menit yang diikuti dengan pengeringan dengan handuk steril dan pemakaian sarung tangan dilakukan sebelum memegang jaringan atau peralatan yang steril. Pencucian tangan yang standar dilakukan sebelum dan sesudah merawat pasien dengan jalam membersihkan seluruh permukaan tangan dengan desinfektan selama 10-20 detik yang diikuti dengan pengeringan.

Semmelweis dan Lister secara terpisah mengemukakan mengenai pentingnya pencucian tangan yang berulang-ulang dalam usaha mencegah penyebaran mikroorganisme dari satu orang ke orang lain.

Sarung tangan karet diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Prof. William Halstead, seorang ahli bedah pada Johns Hopkins University pada tahun 1890. ADA pada tahun 1976 menganjurkan pemakaian sarung tangan sekali pakai (disposable) untuk melindungi orang-orang yang bekerja pada bidang kedokteran gigi terhadap mikroorganisme patogen yang terdapat dalam darah.

Apabila kita tiba-tiba harus memegang benda atau alat seperti membuka laci atau lemaru untuk mengambil botol medikamen atau memegang gagang telepon, maka harus melapis sarung tangan dengan sarung tangan yang biasa dipakai untuk mempersiapkan makanan dan dipakai untuk 1 orang pasien saja, agar saliva atau darah yang melekat pada sarung tangan tidak mengkontaminasi alat-alat tersebut.



Aerosol dan percikan dapat mengkontaminasi baju kerja dokter gigi dan asistennya. Baju praktek harus dipakai untuk mencegah terjadinya kontaminasi pada pakaian dokter gigi. Untuk mencegah penyebaran penyakit infeksi pada keluarga, baju praktek harus dilepas di tempat praktek dan dicuci secara terpisah dari pakaian lainnya.

Efisiensi masker dalam mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam saluran pernafasan tergantung dari bahannya dan lamanya pemakaian. Masker yang menutupi mulut dan hidung dapat mengurangi masuknya mikroorganisme infeksius yang terdapat pada aerosol ke dalam saluran nafas. Masker juga dapat melindungi membran mukosa dari mulut dan hidung terhadap kontaminasi langsung. Bila masker dipakai lebih dari 20 menit, permukaan luarnya akan menjadi tempat perlekatan bagi bakteri patogen dan bukannya menjadi barrier, oleh karena itu dianjurkan untuk memakai 1 masker untuk tiap pasien.

Selama merawat pasien, partikel besar dari debris dan saliva dapat tersembur pada wajah dokter gigi. Partikel ini dapat mengandung konsentrasi tinggi dari bakteri dan secara fisik dapat melukai mata. Untuk ini kacamata pelindung harus dipakai, bukan hanya untuk mencegah terjadinya luka, tetapi juga untuk mencegah terjadinya infeksi, oleh karena mata dapat menjadi port d'entree bagi masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh.

Kacamata dapat memberi perlindungan pada bagian atas dan bagian sisi, dan beberapa model dibuat sehingga dapat dipakai di luar kacamata baca, selain kacamata dapat pula dipakau pelindung wajah yang terbuat dari plastik jernih (face shield). Kacamata yang terkontaminasi harus dicuci dengan air dan sabun, bilas sampai bersih dan disterilkan bila mungkin atau didesinfeksi dengan bahan yang tidak merusak.

Banyak dokter gigi yang mengalami luka tusuk dan 88% melaporkan bahwa pernah terpercik wajahnya dengan cairan tubuh pasien. Dalam suatu penelitian di Pulau Karibia, Jamaika dilaporkan bahwa banyak terjadi luka tusuk dan percikan darah atau cairan tubuh pada wajah. Walaupun terjadinya infeksi melelui cara tersebut sedikit untuk infeksi HIV dan hanya sekitar 12-20% untuk hepatits B setelah terjadi luka tusuk, para dokter gigi harus waspada dan hati-hati dalam menangani benda-benda tajam dan memakai high vacuum suction, mengatur posisi pasien, memakai rubber dam dan masker serta kacamata pelindung.

Kualitas air dalam unit gigi sangat penting bagi orang-orang yang bekerja dalam bidang kedokteran gigi, karena mereka sering kontak dengan air dan aerosol yang berasal dari unit gigi. Kuman yang terdapat dalam air dari unit gigi dapat menyebabkan antara lain pneumonia, infeksi saluran pernafasan yang menyerupai flu ringan, dan yang agak jarang terjadi adalah infeksi pada luka oleh Legionella pneumophila dan Mycobacterium avium yang dapat menyebabkan infeksi yang menyebar pada orang yang seropositif HIV setelah tertelan dan berkembang biak pada saluran pencernaan.



Untuk mencegah kontaminasi pada air dari unit gigi ADA, CDC, dan BDC menganjurkan sebelum memulai praktek saluran air pada hand-piece, three way syringe , dan ultrasonic scaller tersebut harus di-flush selama beberapa menit untuk mengurangi akumulasi organisme yang terjadi selama 1 malam.

Menurut Nisengard dan Newman saluran air pada unit gigi harus di-flush selama 2 menit sebelum mulai praktek dan 20-30 detik sebelum merawat tiap pasien.

Imunisasi harus dilakukan oleh semua orang yang bekerja dalam bidang kedokteran gigi yang mencakup tiga hal yaitu imunisasi diberikan pada awal masa kerja, pemeberian imunisasi ulangan untuk beberapa jenis penyakit yang memerlukan imunisasi ulangan, pemberian imunisasi dan kemoterapi pada saat kontak dengan penyakit. Adapun imunisasi tersebut antara lain adalah terhadap penyakit mumps, measles dan rubella (MMR), diphteri, pertusis dan tetanus (DPT), influenza, poliomyelitis, tbc(BCG) dan hepatitis B.

Vaksin yang terbaru untuk hepatitis B adalah Recombivax HB (H-B-VAX II), vaksin diberikan dalam 3 rangkaian suntikan (0, 1, 6 bulan), ini ternyata meningkatkan pembentukan anti-HBs pada lebih dari 99% orang yang berusia 20-29 tahun dan dianggap lebih baik dalam merangsang pembentukan titer anti-HBs yang tinggi..

Hepatitis B immune globulin (HBIG) efektif sebagai tindakan perlindungan selama 3-6 bulan terhadap HBV dan digunakan hanya bila terjadi kontak dengan darah yang diduga mengandung virus hepatitis B, baik melalui kulit maupun membran mukosa. Imunisasi pasif dengan HBIG harus diberikan dalam waktu kurang dari 48 jam setelah kontak dengan darah yang mengandung virus hepatitis B, kemudian diberikan vaksinasi lengkap terhadap hepatitis B yang diberikan dalam waktu kurang dari 7 hari setelah kecelakaan tersebut sebagai dosis I.

Menurut Appleton yang dikutip Molinari (2000), secara umum sterilisasi panas adalah merupakan pilihan utama mengingat cara pemakaiannya yang sederhana, ekonomis, dan efektif. Bila secara fisik tidak digunakan karena akan merusak bahan/alat yang akan disterilkan, dapat digunakan bahan kimia sebagai gantinya.

Karena tidak mungkin mencapai keadaan asepsis sempurna untuk semua permukaan dan alat-alat selama prosedur perawatan gigi, namun paling tidak harus dilakukan tindakan dekontaminasi dari alat-alat yang dapat merupakan sumber dari penyebaran penyakit infeksi seperti pegangan lampu, tombol-tombol pengatur pada unit gigi, pegangan lemari, sandaran kepala, dan sandaran lengan pada kursi unit. Untuk ini dibutuhkan disinfektan yang dapat membunuh M. tuberculosis dan virus. Disinfektan ini mengandung campuran fenol-klor, bersifat tuberocidal dan dapat merusak virus yang lipophilic.

Dengan menutupi alat/benda-benda yang tak dapat disterilkan dapat mengurangi kebutuhan untuk desinfeksi misalnya baki instrumen, ujung alat three way syringe, alat penghisap saliva/darah, tombol-tombol pada unit gigi, pegangan lampu, ujung alat untuk menyinari tumpatan gigi, sandaran kepala, dan lain-lain dengan bib, plastik atau aluminium foil sekali pakai untuk tiap pasien.

Untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit infeksi bagi tekniker gigi, hasil cetakan gigi atau stone casts, harus dicuci dengan air mengalir untuk membersihkannya dari saliva, debris dan darah kemudian direndam dalam desinfektan atau disemprot dengan disinfektan sebelum dikirim ke laboratorium, begitu pula prostesis sebelum dipasang dalam mulut pasien harus didisinfeksi terlebih dulu dengan desinfektan yang sesuai dengan bahan dari protesa tersebut. (1) Menurut Merchant dan Mollinari, bahan disinfektan yang paling baik untuk prostesis adalah iodophors selama 10 menit.



































Kesimpulan dan Saran

Tujuan utama dari tindakan pencegahan penyebaran penyakit infeksi adalah untuk mengurangi resiko kontak dengan mikroorganisme patogen dan menciptakan lingkungan kerja yang aman, baik untuk pasien maupun untuk orang-orang yang bekerja dalam bidang kedokteran gigi.

Riwayat kesehatan pasien atau pemeriksaan fisik saja tidak dapat mengidentifikasi pasien yang menderita penyakit infeksi, dimana individu yang kelihatan sehat bahkan hasil pemeriksaan laboratoriumnya menunjukkan hasil negatif. Oleh karena itu semua pasien yang datang harus dianggap memiliki mikroorganisme patogen dan semua tindakan pencegahan penyebaran penyakit infeksi harus dilakukan.

































Daftar Pustaka

1. Nisengard RJ, Newman MG. Oral microbiology and immunology, 2nd ed. Philadelphia : W..B. Saunders Co; 1994. p.402-23.
2. Samanarayake LP. Essential microbiology for dentistry. New York . Churchill Livingstone; 1996. p.317-35.
3. Cottone JA, Terezhalmy GT, Molinari JA. Practical infection control in dentistry. Philadelphia : Lea & Febriger; 1991. p.189-96.
4. Inglis TJ. Microbiology and infection. New York : Churchill Livingstone; 1996. p.44-6.
5. Torres HO, Ehrlich A. Modern dental assisting, 5th Ed. Philadelphia: W.B. Saunders Company; 1995. p.219-41.
6. Cottone JA. The global challenge of hepatitis B: Implications for dental personel. J Am Dent Assoc 1991; 130: 509-20.
7. Molinari JA. Dental infection control at the year 2000: accomplishment recoqnized. J Am Dent Assoc 1999; 130: 1291-8.
8. Vignarajah S, Eastmond VH, Ashraph A, Rashad M. An assessment of cross-infection control procedures among English-speaking Caribean general dental practitioners. A regional preliminary study. Int Dent J 1998; 48: 67-76.
9. Meiller TF, depaola LG, Kelly JI, Baqui AAMA, Turng BF, Falker WA. Dental waterlines: biofilms, desinfection and recurrence. J Am Dent Assoc 1999; 130: 62-72.
10. Pankhurst CL, Johnson NW, Woods RG. Microbial contamination of dental unit waterlines. The scientific argument. Int Dent J 1998; 48: 359-68.
11. Gillcrist JA. Hepatitis viruses A, B, C, D, E, and G: Implications for dental personnel. J Am Dent Assoc 1999; 130: 509-20.

mobilisasi pasien CVA

Penanganan

pasien stroke

Di susun oleh :

Nidhommudin (07011017) (14)

STIKES INSAN SE AGUNG BANGKALAN

2008

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan pada kehadiran Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah Nya kita dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Penanganan pasien stroke ini.

Ucapan terimakasih juga kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini dengan baik dan tepat waktu.

Makalah ini kami buat berdasarkan rangkuman dari website yang kami jadikan referensi. Makalah bertujuan untuk memenuhi tugas dari dosen KDM. Makalah ini juga bertujuan untuk memberikan informasi bagi para pembaca.

Bangkalan , 16 Februari 2009

Penyusun

DAFTAR ISI

Judul....................................................................................................................... 1

KATA PENGANTAR ........................................................................................... 2

DAFTAR ISI.......................................................................................................... 3

BAB I : PENDAHULUAN..................................................................................... 4

I. Latar Belakang........................................................................................... 4

II. Rumusan Masalah ...................................................................................... 5

III. Tujuan ....................................................................................................... 5

IV. Manfaat ..................................................................................................... 5

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 6

BAB III : PERSEPTIF / PEMBAHASAN ............................................................. 8

I. Pengertian Stroke ...................................................................................... 9

II. Klasifikasi Stroke........................................................................................ 9

A. Stroke non hemoragik..................................................................... 9

B. Stroke hemoragik............................................................................ 10

III. Faktor Yang Dapat Menyebabkan Seseorang Menjadi Rentan Terhadap Serangan Stroke 10

IV. Tanda Dan Gejala Serta Bahaya Stroke...................................................... 11

V. Pencegahan Stroke..................................................................................... 12

VI. Perawatan Pasca Stroke............................................................................. 12

· Fisioterapi ........................................................................................... 13

· Rehabilitasi .......................................................................................... 19

BAB IV : PENUTUP ............................................................................................. 20

A. kesimpulan ................................................................................................. 20

B. saran.......................................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 22

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar belakang

Stroke merupakan satu masalah kesehatan yang besar dalam kehidupan modern saat ini. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk terkena serangan stroke, sekitar 2,5 % atau 125.000 orang meninggal, dan sisanya cacat ringan maupun berat. Jumlah penderita stroke cenderung terus meningkat setiap tahun, bukan hanya menyerang penduduk usia tua, tetapi juga dialami oleh mereka yang berusia muda dan produktif. Stroke dapat menyerang setiap usia, namun yang sering terjadi pada usia di atas 40 tahun. Angka kejadian stroke meningkat dengan bertambahnya usia, makin tinggi usia seseorang, makin tinggi kemungkinan terkena serangan stroke (Yayasan Stroke Indonesia, 2006).

Dilihat dari aspek fisioterapi, gangguan yang timbul pada penderita stroke stadium akut menimbulkan beberapa tingkat gangguan, yaitu “impairment ” yang berupa flacciditas dan hilangnya sensibilitas separo tubuh. Adanya “functional limititation” yaitu seperti menurunnya kemampuan untuk menggerakan anggota gerak atas tubuh misalnya tangan dan tungkai untuk aktifitas fungsional. Dan pada tingkat “disability” yaitu ketidakmampuan dalam melakukan aktifitas yang bersifat sosial misalnya pergi beribadah, kerja bakti, rapat desa, yang sampai pada tingkat kecacatan.

pada penderita stroke stadium akut dapat diberikan breathing exercise pada pasien tidur terlentang yang bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi pada sistem pernafasan. Positioning untuk mencegah timbulnya spastisitas dan pola sinergis. Mobilisasi dini dengan latihan pasif dan aktif yang bertujuan untuk mencegah terjadinya atrofi dan mencegah terjadinya ganguan pada mobilitas persendian yang diakibatkan oleh kontraktur dan perlengketan jaringan dan mempercepat kemampuan gerak dan fungsi yang dapat mengakibatkan peningkatan kemampuan fungsional pasca stroke.

II. Rumusan masalah

Untuk membatasi pembahasan, maka dirumuskan masalah sebagai berikut:

A. Apa pengertian stroke ?

B. Apakah stroke hemoragik dan strke non hemoragik itu ?

C. Faktor apa saja yang menyebabkan seseorang menjadi rentan terhadap serangan stroke ?

D. Apa saja tanda dan gejala serta bahaya stroke ?

E. Bagaimana pencegahan stroke ?

F. Bagaimana pula perawatan pasca stroke ?

III. Tujuan

Untuk mengetahui pengertian stroke, stroke hemoragik dan strke non hemoragik, faktor yang menyebabkan seseorang menjadi rentan terhadap serangan stroke, tanda dan gejala serta bahaya stroke, pencegahan stroke, perawatan pasca stroke.

IV. Manfaat

Manfaat dari pembahasan stroke ini antara lain :

A. Untuk mencegah stroke sejak dini

B. Untuk mengurangi pasien kecacatan akibat stroke

C. Untuk mencegah komplikasi penyakit lain

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dilihat dari etiologi stroke dapat dibagi dalam golongan besar yaitu stroke haemoragik (perdarahan) dan stroke non haemoragik (infark ishkemia). Etiologi yang akan penulis bahas disini adalah stroke non haemoragik saja.

Stroke non haemoragik, sangat erat hubungannya dengan atherosclerosis. Kata atherosclerosis digunakan bagi sekelompok kelainan yang mengakibatkan menebalnya serta mengurangnya kelenturan (elasitis) dinding pembuluh darah arteri.

Terdapat 3 jenis atherosclerosis, yaitu:

(1) atherosclerosis (ditandai oleh pembentukan ateromata (plaque intima) fokal,

(2) sclerosis Monckeberg (ditandai oleh pengapuran pada tunika media pembuluh darah arteria);

(3) atherosclerosis dengan ditandai oleh proliferasi fibro - muscular atau penebalan endotel dinding arteri berukuran kecil dan arteriol

Manifestasi Klinis atherosclerosis bermacam – macam.Kerusakan dapat terjadi melalui mekanisme sebagai berikut :

(1) Lumen arteri menyempit dan menyebabkan berkurangnya aliran darah.

(2) Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi trombosis atau perdarahan pada ateroma.

(3) Merupakan tempat untuk terjadinya thrombus dan kemudian dapat melepaskan kepingan thrombus (embolus).

(4) menyebabkan dinding pembuluh menjadi lemah dan terjadi aneurisma yang kemudian dapat robek (Lumantobing, 2003).

Faktor yang mempengaruhi aliran darah diotak diantaranya :

(1) keadaan arteri, arteri dapat menyempit oleh proses atherosclerosis atau tersumbat oleh thrombus atau embolus

(2) keadaan darah, keadaan darah dapat mempengaruhi aliran darah dan suplai oksigen.Darah bertambah kental, penigkatan vikositas darah, peningkatan hematokrit (misalnya pada penyakit polisitemia) dapat melambatkan aliran darah.Pada anemia berat suplai oksigen dapat pula menurun.

(3) kelainan jantung, bila denyut jantung tidak teratur dan tidak efisien (misalnya pada fibrilasi, blok jantung) maka curahnya akan menurun dan mengakibatkan aliran darah diotak mengurang (iskemia).Jantung yang sakit dapat pula melepaskan embolus yang kemudian tersangkut dipembuluh darah/arteri otak dan mengakibatkan iskemia (Aliah, dkk.2000)

Berdasarkan jenis infark srtoke non haemoragik dapat dikelompokkan menjadi: (1) transient ischemik attack (TIA), serangan stroke sementara yang berlangsung kurang dari 24 jam. (2) reversible ischemic neurologic defisit (RIND) gejala neurologis akan menghilang antara lebih dari 24 jam sampai dengan 21 hari .(3) progresive stroke atau stroke in evolution; kelainan atau defisit neurologis berlangsung bertahap dari ringan sampai menjadi berat (4) completed stroke; kelainan neurologis sudah menetap, dan tidak berkembang lagi (Iskandar, 2002)Stroke iskemik berdasarkan penyebabnya menurut klasifikasi The National Institute of Neurological Disorders Stroke Part III (NINDS III),dibagi menjadi 4 golongan yaitu (1) Aterotrombotik; erat hubungannya dengan platelet, trombosis (2)cardioemboli (3) lakunar (4) penyebab lain yang menyebabkan hipotensi. (Iskandar, 2002).

BAB III

PERSEPTIF / PEMBAHASAN

Contoh kasus :

Mengendarai sepeda motor, mereka hendak mengurus warisan di kantor Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal. Baru 15 menit meninggalkan rumah, Suyatno menepi saat motor oleng. Ia berhenti dan terperanjat mendapati kakaknya, Rahadi, yang ia bonceng terkulai lemas. Di bawah mentari yang memanggang itu Suyatno bergegas membawa kakaknya ke Puskesmas Pagerbarang.

Suyatno menduga Rahadi pusing lantaran terpanggang matahari. Benar? Diagnosis dokter mengagetkan pria berusia 52 tahun itu. Rahadi terserang stroke dan harus dirawat inap. Tiga malam dilaluinya di atas pembaringan. Tak ada kesembuhan berarti. Malahan pria kelahiran Tegal itu tak dapat menggerakkan tangan dan kaki kanan.

Melihat kondisi pasien memburuk, dokter Puskemas segera merujuk ke dokter spesialis saraf di RS Kartina, Tegal. Lagi-lagi ia mesti dirawat inap untuk menjalani terapi. Haparan kesembuhan juga disandarkan pada beragam obat seperti plaviks, crestor, dan prexum.

Menurut Dr Satya Hanura, SpS, ahli penyakit saraf Rumah Sakit Jakarta, faktor utama penyebab stroke adalah hipertensi. Hipertensi bepengaruh langsung terhadap proses fisiologi peredaran darah dalam otak. Akibatnya, timbul gangguan aliran darah menuju otak sehingga menyebabkan stroke dan atrofi otak alias pengerutan atau penciutan otak. Pada beberapa kasus, atrofi menyebabkan koma.

Hipertensi dipicu kadar kolesterol dalam darah yang tinggi. Kolesterol menyebabkan pembuluh darah tersumbat oleh tumpukan lemak. Jadi, kolesterol menjadi faktor pemicu sekunder. Kolesterol bersumber dari makanan berlemak. Kebiasaan mengkonsumsi makanan berlemak itulah yang mengantarkan Rahadi ke meja dokter. Sebelum vonis stroke diketukkan, memang tak satu pun makanan yang dipantang. Padahal usianya 52 tahun.

I. Pengertian Stroke

Stroke / CVA adalah ganguan pada pembuluh darah otak dimana terjadi berhenti/ terganggu aliran darah secara mendadak ke salah satu / lebih daerah otak karena tersumbat / pecahnya pembuluh darah yg ada di otak
Penyebab dari stroke / CVA adalah karena Thrombosis ,Emboli, maupun perdarahan intra serebral sendiri. Ada pun faktor-faktor yang mempengaruhi atau sebagai pens\cetus terjadinya CVA adalah penyakit seperti; Kencing manis (DM), obesitas/kegemukan ,penyakit jantung ,dan tekanan darah tinggi (Hipertensi).

Stroke adalah kehilangan fungsi otak diakibatkan oleh berhentinya suplai
darah ke bagian otak, biasanya merupakan kulminasi penyakit serebrovaskuler
selama beberapa tahun (Smeltzer, 200 1).

Stroke merupakan sindrom klinis yang timbulnya mendadak, progresi
cepat, berupa defisit neurologis fokal dan atau global yang berlangsung 24 jam
atau lebih, bisa juga langsung menimbulkan kematian yang disebabkan oleh
gangguan peredaran darah otak non traumatik (Mansjoer, 2000).

Stroke digunakan untuk menamakan sindrom hemiparesis atau
hemiparalis akibat lesi vaskular yang bisa bangkit dalam beberapa detik sampai hari, tergantung pada jenis penyakit yang menjadi kausanya (Sidharta, 1994).

II. Klasifikasi stroke

A. Stroke Non Hemoragik / Iskemik / Infark

Stroke non-henoragik terjadi karena penurunan aliran darah sampai di bawah titik kritis,sehingga terjadi gangguan fungsi pada sebagian jaringan otak.bila hal ini lebih berat dan berlangsung lebih lama dapat terjadi infark dan kematian.berkurangnya aliran darah ke otak dapat disebabkan oleh berbagai hal:misalnya thrombus, emboli yang menyumbat salah satu pembuluh darah, atau gagalnya pengaliran darah oleh sebab lain, misalnya kelainan jantung (fibrilasi, asistol).

Stroke non-hemoragik lebih sering dijumpai daripada yang hemoragik. Diagnosis mudah ditegakan,yaitu

1) Transient Ischemic Attack (TIA)/Serangan Iskemi Sepintas
TIA merupakan tampilan peristiwa berupa episode-episode serangan sesaat dari suatu disfungsi serebral fokal akibat gangguan vaskuler, dengan lama serangan sekitar 2 -15 menit sampai paling lama 24 jam.

2) Defisit Neurologis Iskemik Sepintas/Reversible Ischemic Neurologi Defisit (RIND). Gejala dan tanda gangguan neurologis yang berlangsung lebih lama dari 24 jam dan kemudian pulih kembali (dalam jangka waktu kurang dari tiga minggu)

3) In Evolutional atau Progressing Stroke Gejala gangguan neurologis yang progresif dalam waktu enam jam atau lebih.

4) Stroke Komplit (Completed Stroke / Permanent Stroke ) Gejala gangguan neurologis dengan lesi -lesi yang stabil selama periode waktu 18-24 jam, tanpa adanya progesifitas lanjut.

B. Stroke Hemoragik

Perdarahan intrakranial dibedakan berdasarkan tempat perda rahannya, yakni di rongga subararakhnoid atau di dalam parenkhim otak (intraserebral).Ada juga perdarahan yang terjadi bersamaan pada kedua. Tempat di atas seperti:perdarahan subarakhnoid yang bocor ke dalam otakatau sebaliknya. Selanjutnya gangguan-gangguan arteri yang menimbulkan perdarahan otak spontan dibedakan lagi berdasarkan ukuran dan lokasi regional otak.

III. Faktor Yang Menyebabkan Seseorang Menjadi Rentan Terhadap Serangan Stroke

Banyak faktor resiko yang dapat membuat seseorang yang menjadi rentan terhadap serangan stroke, secara garis besar faktor resiko itu dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :

A. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol yaitu:

(1) Umur, semakin tua kejadian stroke semakin tinggi

(2) Ras / bangsa : Negro / Afrika, Jepang, dan Cina lebih sering terkena stroke

(3) Jenis kelamin, laki-laki lebih beresiko dibanding wanita, (4) Riwayat keluarga yang pernah mengalami stroke.

B. Faktor resiko yang dapat dikontrol

(1) Hipertensi,

(2) Diabetes Millitus,

(3) Merokok

(4) Hiperlipidemia dan Kolesterol,

(5) Obesitas,

(6) Penggunaan obat – obatan yang mempengaruhi serebrovaskuler, seperti : amfetamin, kokain, dan sejenis.

IV. Tanda Dan Gejala Serta Bahaya Stroke

Tanda Dan Gejala Serta Bahaya Stroke antara lain :

o Kelumpuhan pada wajah/ angota badan yang lain secara mendadak (PARALYSIS)

o Perubahan mendadak status kesadaran ( Sinkop, Coma , stupor).

o Afasia ataupun Disartria

o Vertigo, mual muntah nyeri kepala

o Ganguan penglihatan (Diplopia)

Bahaya yang dapat ditimbulkan dari serangan CVA / Stroke adalah dapat menimbulkan nekrosis /kematian jaringan pada otak yang dapat berakibat kecacatan berupa kelumpuhan pada anggota gerak badan ataupun dapat menyebabkan kematian.

Sumber lain juga mengatakan, sebagai berikut :

Tanda dan gejala yang ditimbulkan sangat bervariasi tergantung dari topis dan derajat beratnya lesi. Akan tetapi tanda dan gejala yang dijumpai pada penderita post stroke secara umum yaitu :

a. Gangguan Motorik

Gangguan motorik yang terjadi yaitu : (1) tonus abnormal, baik hipo/ hipertonus, (2) penurunan kekuatan otot, (3) gangguan gerak volunter, (4) gangguan keseimbangan, (5) gangguan koordinasi, (6) gangguan ketahanan.

b. Gangguan Sensorik

Gangguan sensorik yang ditimbulkan adalah : (1) gangguan propioreseptik, (2) gangguan kinestetik, (3) gangguan diskriminatif.

c. Gangguan kognitif, memori dan atensi.

Pada gangguan kognitif ini akan terlihat adanya gangguan pada atensi, memori, inisiatif, daya perencanaan dan fleksibilitas, abstraksi insight menurun, dan cara penyelesaian suatu masalah (Nugrahati, 1992).

d. Gangguan kemampuan fungsional

Gangguan kemampuan fungsional yang ditimbulkan pada pasien stroke meliputi gangguan aktifitas mandi, makan, berpakaian, pergi ke toilet, transfer ambulasi, blader dan bowel.

V. Pencegahan Stroke

Cara pencegahan atau menghindari CVA /Stroke adalah dengan membiasakan dengan perilaku hidup sehat diantaranya :

Makan secukupnya untuk menghindari kegemukan

Olah raga secara teratur

Hindari stress, depresi/ sedih berkepanjangan dengan berpikir sehat

Hindari makanan dengan kolesteol tinggi

• penyakit; kencing manis (DM) Hipertensi, dan penyakit jantung diobati

• Check up /periksa ke dokter atau layanan kesehatan

VI. Perawatan Pasca Stroke

Perawatan pasien dengan stroke dirumah atau sehabis dari RS ialah sangat diperlukan karena hampir semua pasien pasca stroke mengalami kelumpuhan (PARALYSIS) pada anggota gerak tubuhnya jadi terjadi kerusakan mobilitas fisik dari pasien

A. Perawatan yang dapat dilakukan keluarga dirumah antar lain :
Melakukan latihan rentang gerak secara pasif /ROM (Range Of Motion) pada setiap persendian pasien. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya KONTRAKTUR/ (kaku pada sendi) pasien dan juga untuk mencegah terjadinya atrofi pada otot terutama pada otot bagian ekstermitas

B. Melakukan perubahan posisi pada tubuh pasien dalam waktu minimal 2 - 3 jam (miring kanan, miring kiri, telentang ataupun tengkurap)
Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari penekanan yang lama pada satu sisi tubuh yang dapat menimbulkan gangguan integritas kulit sepaeri Ulcus Decubitus

C. Keluarga perlu membawa pasien pasca serangan CVA dengan kerusakan motorik/ mengalami kelumpuhan pada ahli Fisio-terapi setiap hari pada idelnya. Hal ini perlu untuk dilakukan untuk membantu pemulihan koordinasi pergerakan sistemj motorik dari pasien dengan melakukan latihan-latihan Fisio-terapi.

Perawatan pasca stroke juga dilkukan fisioterapi dan rehabilitasi .

o FISIOTERAPI

Modalitas Fisioterapi yang digunakan untuk menangani kondisi stroke stadium akut atau flaccid ini, bertujuan untuk;

(1) mencegah komplikasi pada fungsi paru akibat tirah baring yang lama.

(2) menghambat spastisitas, pola sinergis ketika ada peningkatan tonus.

(3) mengurangi oedem pada anggota gerak atas dan bawah sisi sakit .

(4) merangsang timbulnya tonus kearah normal, pola gerak dan koordinasi gerak.

(5) meningkatkan kemampuan aktifitas fungsional. Pelaksanaan terapi dilakukan pada ruang ICU dan bangsal rawat inap.

Adapun tekhniknya :

1). Passive breathing excercise

Karena sudah satu minggu pasien mengalami serangan stroke.Dan saat ini sebagian besar waktunya digunakan untuk tiduran oleh pasien. Istirahat yang cukup lama dibed dan inaktifitas akan menurunkan metabolisme secara umum .Hal ini mengakibatkan penurunan kapasitas fungsional pada sistim tubuh yang komplek, dengan manifestasi klinis berupa sindrom imobilisasi (Saleem dan Vallbona). Pada pasien yang menderita defisit neurologis efek imobilisasi berakibat pada penurunan kapasitas fungsional. Hal ini menyebabkan membutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan potensi fungsi maksimal yang dimiliki pasien. Manifestasi klinik sindrom imobilisasi salah satunya pada sistem respirasi yang berupa :

(a) penurunan kapasitas vital

(b) penurunan ventilasi volunter maksimal

(c) perubahan regional dalam ventilasi/perfusi

(d) gangguan mekanisme batuk.

2). Positioning

Setiap posisi atau gerak dari pasien harus selalu berada dalam lingkup pola penyembuhan atau berlawanan dengan pola spastisitas yang timbul kemudian, posisi dan latihan gerak dalam pola penyembuhan harus sejak dini dilaksanakan.Pengaturan posisi yang benar dengan posisi anatomis, ini bermanfaat untuk menghambat pola sinergis dan spastisitas ketika adanya peningkatan tonus. Posisi tidur terlentang, posisi bahu dan lengan diletakkan diatas bantal sehingga bahu sedikit terdorong ke depan (protaksi) karena pada paisen stroke cenderung untuk terjadi retraksi bahu.Posisi bantal diletakkan dibawah tungkai bawah dengan maksud agar panggul tidak jatuh kebelakang dan tungkai tidak eksternal rotasi. Posisi miring kesisi sehat berfungsi agar tidak terjadi dekubitus dan untuk mencegah komplikasi fungsi paru akibat tirah baring yang lama karena karena sangkar thorak terfiksir dalam posisi ekspirasi, dengan posisi bahu protaksi dan lengan lurus didepan bantal.Posisi miring kesisi sakit, dengan posisi bahu terdorong kedepan dan tidak tertindih akan memberikan rasa berat badan pada sisi lumpuh.Pengaturan posisi elevasi pada ekstremitas bawah dan ekstremitas atas berguna untuk menurunkan oedem dengan menganut prinsip gravitasi dengan postural drainage lewat pembuluh darah dan limfe.Pengaturan posisi furniture pasien disisi lumpuh dengan tujuan (1) rotasi kepala yang diikuti mata paisen secara otomatis kearah benda yang terletak dimeja menimbulkan suatu kebiasaan untuk meluruskan lengan yang sakit dalam pola penyembuhan (2) berat badan bergeser kerah sisi tubuh terutama sendi panggul, merangsang kesadaran akan sisi yang paralisis (3) gerakan memutar bahu terhadap panggul merupakan gerakan penting dalam mencegah spastisitas.

3). Stimulasi taktil terhadap kulit, otot, persendian dengan tehnik – tehnik: tapping, swiping, aproksimasi.

Stimulasi taktil pada prinsipnya harus menimbulkan kontraksi otot, sehingga akan merangsang golgi tendon dan muscle spindle.Impuls yang berasal dari gelondong otot dan organ tendon dikirim oleh serat konduksi yang paling kaya bermyelin yaitu serat Ia.Impuls propioseptif lain yang berasal dari reseptor fasia, sendi dan jaringan ikat yang lebih dalam, berjalan dalam serat yang kurang bermyelin.Ketukan, swiping, tapping dan aproksimasi akan merangsang propioseptor pada kulit dan persendian, gelondong otot akan bereaksi dengan dikirimnya impuls ke motoneuron anterior, perangsangan neuron ini menyebabkan peningkatan kontraksi secara singkat.

Rangsangan pada muscle spindle dan golgi tendon akan diinformasikan melalui afferen ke susunan saraf pusat sehingga akan mengkontribusikan fasiltas dan inhibisi (gracanin).Rangsangan taktil yang diulang-ulang akan memberikan informasi ke “supraspinal mechanisme” sehingga terjadi pola gerak yang terintegrai dan menjadi gerakan-gerakan pola fungsional.

Stimulasi taktil melalui saraf motoris perifer melatih fungsi tangan “graps” dan “release” serta dapat memberikan fasilitasi pada otot yang lemah dalam melakukan gerakan .

4). Latihan gerak pasif dengan pola gerak propioceptive neuromusculer fasilitation dengan tehnik rhytmical initiation .

PNF adalah kependekan dari propioceptive Neuromuscular Fasilitation. Dimana maksud dari fasilitasi disini adalah membuat lebih mudah.Dengan demikian kita bisa memberikan tindakan dengan efisien dengan selalu memperhatikan ketepatan dan fungsi gerakan yang dilakukan pasien.Propiceptieve, dengan metode PNF maka akan semakin diperkuat dan diintensifkan rangsangan – rangsangan spesifik melalui receptor yaitu panca indra dan atau propioceptor.Neuromusculair, juga untuk meningkatkan respons dari sistem neouromusculair.

Filosofi dari PNF adalah menangani atau mengobati pasien secara total dengan tujuan mencapai fungsi-fungsi yang optimal dari pasien.PNF berlatar belakang atas konsep sebagai berikut : bahwa kehidupan (dalam arti sempit) adalah sederetan reaksi atas sederetan rangsangan – rangsangan yang diterimanya.Manusia dengan cara demikian akan dapat mencapai bermacam – macam kemampuan motorik.Bila ada gangguan terhadap mekanisme neuromusculair, berarti seseorang tidak dalam kondisi untuk siap bereaksi terhadap rangsangan -rangsangan yang datang sehingga dia tidak mampu untuk bereaksi kearah yang tepat seperti yang dikehendaki.Metode PNF berusaha memberikan rangsangan – rangsangan yang sesuai dengan reaksi yang dikehendaki, yang pada akhirnya akan dicapai kemampuan atau gerakan yang terkoordinasi.Lewat rangsangan – rangsangan tadi fisioterapis berusaha untuk mengaktifkan lagi mekanisme yang latent dan cadangan –cadangannya dengan tujuan utama untuk meningkatkan kemampuan fungsional.Metode PNF menganut prinsip – prinsip (1) Ilmu proses tumbuh kembang, perkembangan motoris berkembang dari cranial ke caudal dan dari proksimal ke distal.Gerakan terkoordinasi pada orang dewasa berlangsung dari distal ke proksimal.Gerakan selalu sebelumnya didahului dengan kontrol sikap (stabilisasi), dimana stabilisasi akan menentukan kualitas dari gerakan (2) Prinsip Neurofisiologis, Overflow principe; motoris impuls dapat diperkuat oleh motoris impuls yang lain dari group otot yang lebih kuat yang dalam waktu bersamaan berkontraksi, dimana otot –otot tersebut kira – kira mempunyai fungsi yang sama (otot – otot synergis).overflow principe akan menimbulkan apa yang disebut irradiatie atau summatie.Rangsangan saraf motoris mempunyai ambang rangsang tertentu (semua atau tidak sama sekali).(3) Prinsip ilmu gerak, latihan – latihan isometris ditujukan untuk memperbaiki sikap sedangkan latihan isotonis ditujukan untuk memperbaiki gerakan.Gerakan tunggal murni tidak ada dalam kehidupan, otak hanya mengenal aktifitas otot secara group bukan gerakan individual,setiap gerakan terjadi dalam arah tiga dimensi.gerakan akan semakin kuat bila terjadi bersama – sama dengnan gerakan total yang lain.Dengan dasar – dasar tersebut, metode PNF menyusun latihan – latihan dalam gerakan – gerakan yang selalu melibatkan lebih dari satu sendi dan mempunyai 3 komponen gerakan.Latihan akan lebih cepat berhasil apabila pasien secara penuh mampu melakukan suatu gerakan dari pada bila hanya melakukan sebagian saja.Hindarkan faktor – faktor yang menghambat latihan misal latihan seharusnya tanpa menimbulkan rasa sakit, pengulangan – pengulangan yang banyak dan bervariasi, sikap posisi awal akan memberikan hasil yang lebih baik, aktifitas yang lama penting untuk meningkatkan kekuatan, koordinasi, kondisi dari sistem neuromusculair.Tehnik – tehnik PNF adalah alat fasilitasi yang dipilih dengan maksud yang spesifik, tehnik – tehnik tersebut mempunyai maksud (1) mengajarkan pola gerak, menambah kekuatan otot (3) relaksasi (4) memperbaiki koordinasi (5) memperbaiki gerak (6) mengajarkan kembali gerakan (7) menambah stabilisasi.

5). Mobilisasi dini dengan latihan secara pasif dan aktif.

Pemulihan motorik ialah kembalinya fungsi motorik yang disebabkan oleh pemulihan sistem saraf pada daerah otak yang terkena.Pemulihan motorik sangat bervariasi, banyak diantara mereka yang mengalami pemulihan lengkap (recovery completely) namun tidak sedikit pula yang harus berlatih keras guna memperoleh kembali kemampuan fungsionalnya atau bahkan banyak diantaranya harus menjalani kehidupannya dengan beberapa disabilitas.

Pemulihan motorik terjadi melalui dua mekanisme utama yaitu

(1) resolusi dari faktor – faktor lokal yang merusak dan ini biasanya merupakan pemulihan spontan yang umumnya berlangsung antara 3 sampai dengan 6 bulan. Bahkan proses ini bisa hanya dalam beberapa hari sampai beberapa minggu, proses ini meliputi pengurangan oedem lokal, perbaikan sirkulasi darah lokal dan penyerapan jaringan yang rusak

(2) Neuroplastisitas yang terjadi pada stadium lanjut, penderita stroke mempunyai hubungan bermakna terhadap reorganisasi yang disebut “Neural Plasticity” dalam proses perbaikan sistem sarafnya. penyembuhan saraf penderita stroke harus ditangani secara menyeluruh sejak fase awal hingga fase penyembuhan salah satu pendekatannya adalah pendekatan fisik (physical therapy). ( Purbo kuntono, 1997)

Proses perbaikan pada penderita stroke, pada fase awal perbaikan fungsional neurologi berupa perbaikan lesi primer oleh penyerapan kembali oedema di otak dan membaiknya sistem vaskularisasi.Dalam beberapa waktu kemudian berlanjut ke perbaikan fungsi aksonal atau aktivasi sinaps yang tidak efektif.Pada penderita stroke, perbaikan fungsi neuron berlangsung kurang lebih dalam waktu satu tahun. Prediksi perbaikan ini sangat tergantung dari luasnya defisit neurologi awal, perkembangan lesi, ukuran dan topis kelainan di otak, serta keadaan sebelumnya. Keadaan ini juga dipengaruhi oleh usia nutrisi dan tindakan terapi (fisioterapi) yang juga merupakan faktor yang menentukan dalam proses perbaikan.Kemampuan otak untuk memodifikasi dan mereorganisasi fungsi dari fungsi yang mengalami cendera\kerusakan disebut “neural plastisity”

Otak mempunyai kemampuan untuk beradaptasi, memperbaiki, mengatasi perubahan lingkungan nya (bahaya-bahaya) melalui penyatuan neuronal kembali yang dikelompokan menjadi :

(1) Sprouting ( Collateral Sprouting ) merupakan respon neuron daerah yang tidak mengalami cendera dari sel-sel yang utuh ke daerah yang debervasi setelah ada cendera.Perhatikan fungsi SSP dapat berlangsung beberapa bulan atau tahun setelah cendera dan dapat terjadi secara luas di otak pada daerah setal nukleus, hipokampus, dan sistem saraf tepi.

(2) Unmasking, dalam keadaan normal, banyak akson dan sinaps yang tidak aktif. Apabila “ Jalur Utama” mengalami kerusakan maka fungsinya akan diambil oleh akson menurut wall dan kabath, jalur sinapsis mempunyai mekanisme homestatik, dimana penurunan masukan akan menyebabkan naiknya eksitabilitas sinapsnya .

(3)Diachisia (Dissipation of diachisia) keadaan dimana terdapat hilangnya kesinambungan fungsi atau adanya hambatan fungsi dari traktus-traktus sentral di otak (Purbo kuntono, 1997 yang dikutip dari Meryl Roth Gesch M, 1992) .

Maka perbaikan fungsi pada penderita post stroke dapat dilakukan melalui dua cara : (1) Latihan gerak atau mobilisasi dini untuk mempengaruhi fasilitas dan mendidik kembali fungsi otot terhadap sisi anggota yang lesi (2) Latihan untuk mempengaruhi gerak kompensasi sebagai pengganti daerah yang akan lesi.

Pada fase penyembuhan ini latihan sangat berpengaruh dalam derajat maupun kecepatan perbaikan fungsi.Mobilisasi dengan latihan pasif dan latihan aktif sedini mungkin yang dilakukan serta berulang-ulang akan menjadi gerak yang terkontrol atau terkendali.

o REHABILITASI

Penanganan/ usaha-usaha Rehabilitasi Medik harus diberikan secara individual sesuai dengan masalah yang dihadapi penderita.
Tujuan penanganan Rehabilitasi Medik:

1. Mencegah deformitas/ kecacatan lebih banyak.

2. Mengoreksi kecacatan.

3. Melatih kembali untuk ambulasi / berjalan.

4. Mengajarkan Aktifitas Kegiatan Sehari-hari.

5. Melatih anggota badan yang lumpuh secara maksimal.

6. Mengoreksi gangguan bicara.

7. Meningkatkan kepercayaan diri.

8. Motivasi keluarga.

Tahap-tahap tindakan Rehabilitasi Medik:

I. Fase di Tempat tidur: pengaturan posisi (posisioning), bladder training, latihan lingkup gerak sendi, latihan pernafasan, latihan penguatan otot-otot anggota badan & panggul, psikoterapi.

II. Fase Ambulasi / berjalan: latihan duduk & keseimbangan, latihan berdiri, latihan transfer, latihan jalan, latihan aktifitas kegiatan sehari-hari, latihan fungsional & rekreatif, psikoterapi, pemberian alat bantu seperti tripod atau short leg brace/ knee brace, dan terapi bicara.

BAB IV

PENUTUP

I. Kesimpulan

Stroke / CVA adalah ganguan pada pembuluh darah otak dimana terjadi berhenti/ terganggu aliran darah secara mendadak ke salah satu / lebih daerah otak karena tersumbat / pecahnya pembuluh darah yg ada di otak
Penyebab dari stroke / CVA adalah karena Thrombosis ,Emboli, maupun perdarahan intra serebral sendiri. Ada pun faktor-faktor yang mempengaruhi atau sebagai pens\cetus terjadinya CVA adalah penyakit seperti; Kencing manis (DM), obesitas/kegemukan ,penyakit jantung ,dan tekanan darah tinggi (Hipertensi).

Stroke non-henoragik terjadi karena penurunan aliran darah sampai di bawah titik kritis,sehingga terjadi gangguan fungsi pada sebagian jaringan otak.bila hal ini lebih berat dan berlangsung lebih lama dapat terjadi infark dan kematian.berkurangnya aliran darah ke otak dapat disebabkan oleh berbagai hal:misalnya thrombus, emboli yang menyumbat salah satu pembuluh darah, atau gagalnya pengaliran darah oleh sebab lain, misalnya kelainan jantung (fibrilasi, asistol). Stroke Hemoragik Perdarahan intrakranial dibedakan berdasarkan tempat perda rahannya, yakni di rongga subararakhnoid atau di dalam parenkhim otak (intraserebral).Ada juga perdarahan yang terjadi bersamaan pada kedua. Tempat di atas seperti:perdarahan subarakhnoid yang bocor ke dalam otakatau sebaliknya. Selanjutnya gangguan-gangguan arteri yang menimbulkan perdarahan otak spontan dibedakan lagi berdasarkan ukuran dan lokasi regional otak.

Banyak faktor resiko yang dapat membuat seseorang yang menjadi rentan terhadap serangan stroke, secara garis besar faktor resiko itu dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor resiko yang tidak dapat dikontrol, faktor resiko yang dapat dikontrol.

Tanda Dan Gejala Serta Bahaya Stroke antara lain Kelumpuhan pada wajah/ angota badan yang lain secara mendadak (PARALYSIS) perubahan mendadak status kesadaran ( Sinkop, Coma , stupor), afasia ataupun Disartria, vertigo, mual muntah nyeri kepala ganguan penglihatan (Diplopia). Bahaya yang dapat ditimbulkan dari serangan CVA / Stroke adalah dapat menimbulkan nekrosis /kematian jaringan pada otak yang dapat berakibat kecacatan berupa kelumpuhan pada anggota gerak badan ataupun dapat menyebabkan kematian.

Cara pencegahan atau menghindari CVA /Stroke adalah dengan membiasakan dengan perilaku hidup sehat diantaranya , makan secukupnya untuk menghindari kegemukan, olah raga secara teratur Hindari stress, depresi/ sedih berkepanjangan dengan berpikir sehat, hindari makanan dengan kolesteol tinggipenyakit; kencing manis (DM) Hipertensi, dan penyakit jantung diobati Check up /periksa ke dokter atau layanan kesehatan.

Perawatan pasien dengan stroke dirumah atau sehabis dari RS ialah sangat diperlukan karena hampir semua pasien pasca stroke mengalami kelumpuhan (PARALYSIS) pada anggota gerak tubuhnya jadi terjadi kerusakan mobilitas fisik dari pasien yaitu : perawatan yang dapat dilakukan keluarga dirumah, melakukan perubahan posisi pada tubuh pasien dalam waktu minimal 2 - 3 jam (miring kanan, miring kiri, telentang ataupun tengkurap), keluarga perlu membawa pasien pasca serangan CVA dengan kerusakan motorik/ mengalami kelumpuhan pada ahli Fisio-terapi setiap hari pada idelnya. Perawatan pasca stroke juga dilkukan fisioterapi dan rehabilitasi.

II. Saran

Stroke dapat dicegah, mengenali gejala awal stroke adalah langkah pertama yang harus dilakukan. Selain itu juga dapat mengurangi kecacatan akibat stroke.

DAFTAR PUSTAKA

http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?berita=konsultasi&id=152983#tap

(12 desember 2008)

http://cantik-pernik.blogspot.com/2007/11/stroke.html

(oleh: Firman galuh arisandi, 07 november 2007)

http://www.trubus-online.co,id/mod-php?mod-publisher

(oleh : tubus, 06 februari 2007)

http://masdanang.co.cc/?p=15

(20 juni 2008)

http://id.wordspress.com/tag/medikal-bedah/

(23 desember 2008)

http://binhasyim.wordspress.com/2007/12/15/penatalaksanaan-fisioterapi-pada-stroke-kondisi-akut-by-srujitoamf/

(oleh bin hasyim, 15 desember 2007)